— E S A I · MEI 2026 —

Almost Salopek

Tentang hidup yang penuh, nothing is mine, perempuan bersepatu boot, dan bagal pemarah.

Anak perempuan saya baru memenangkan salah satu kategori dari lomba jazz se-Australia yang diikuti 5000 anak SMA dari 100 sekolah yang berbeda. My heart is painfully full. Saya menunggu- nunggu fotonya saat tampil menyanyi di depan ratusan orang. Alih-alih, saya harus puas dengan kiriman video-video tiktok yang dibuatnya selama perjalanan dengan bis bersama teman-temannya.

Di hari pertama ia masuk kembali ke sekolah, saya pergi ke sebuah pastry shop fancy dan membeli sekotak pastry aneka rasa seharga satu minggu uang belanja. Saya menyuruh anak saya membawanya ke sekolah untuk merayakan kemenangan bersama grup jazznya, dengan pesan “Congrats to your winning and great performance. Thank you Mr. B (guru musiknya) for his patience.

Bersama sekotak pastry yang saya kirimkan sebagai ucapan selamat, saya memposisikan diri saya dalam kemenangan tersebut. The proudest moment in my life, but it is not my winning. It is not mine to claim.

Momen yang selamanya akan saya ingat dengan senyum tersungging ini menjadi semacam pola di kehidupan saya. A good life, but nothing to claim as only mine. Selama 15 tahun, saya membangun hidup bersama suami saya. Hidup yang baik, hidup yang lebih dari sekedar oke. Rumah dimana anak-anak mempunyai kamar mereka sendiri sehingga mereka bebas mendekorasinya sesuai selera mereka; estetika kandang babi. Mobil yang bekerja optimal dengan bantuan sedikit lakban untuk menambal kebocoran di bagasi nya, anak perempuan dan laki-laki yang sizzling good at math and not many sins (menurut tulisan anak laki- laki saya di buku PR nya). Kami memiliki bisnis kecil dan pekerjaan yang mencukupi kehidupan. Kami semua sehat dan we quite like each other. My heart fills with gratitude. Dan, ini adalah pencapaian kami. Berkat yang diberikan kepada kami berdua.

I have a full life. And yet…

Bertahun-tahun yang lalu, saya pernah menulis. Lalu kemudian hidup menjadi riuh. Anak bertambah, cucian membuncah, tagihan melimpah. Lalu saya berhenti. Kemudian saya menemukan Paul Salopek.


But first, a woman in boots.

Rumah sakit tempat saya bekerja mengangkat seorang CEO baru. Seorang wanita berusia 50 tahun yang berjalan ke sana kemari dengan aura yakin. Boss babe. Saya melihatnya melintas dengan sepatu boot, rok maxi dan rambut keritingnya yang diikat messy tetapi tidak berantakan (kebalikan dari saya yang diniati rapi tetapi berakhir gelandangan), dan saya berkhayal. “Bagaimana ya rasanya menjadi seorang wanita karir? Bukan wanita bekerja karena saya juga bekerja. Tetapi menjadi wanita dengan jenjang karir yang menuju puncak. “How gorgeous they are,” pikir saya dengan penuh kekaguman.

“Meg, kamu mau kerja nggak hari Senin? Butuh orang nih,” tanya koordinator staf. Saya hanya bekerja paruh waktu.

No way. I’m allergic working too much,” jawab saya, masih sibuk melamunkan keinginan menjadi CEO.

Tetapi semisal, kalau saja ada kehidupan di dimensi lain dan saya bisa memilih untuk melakukan sesuatu yang sepenuhnya berbeda dengan yang saya lakukan saat ini, apa yang akan saya pilih? Surprisingly (atau tidak mengingat ketidaksukaan saya akan bekerja), bukan menjadi CEO atau bahkan menjadi milyader sekalipun impian terliar saya. Di dimensi yang lain, saya ingin merasakan kehidupan seorang pria berkebangsaan Amerika Serikat berusia 64 tahun. Saya ingin merasakan sehari menjadi Paul Salopek.

Peraih dua kali Pulitzer (penghargaan tertinggi di dunia jurnalisme) yang sejak tahun 2013 hingga saat ini melakukan perjalanan melintasi pojok-pojok peradaban sejauh 38000 kilometer dengan berjalan kaki. Sementara dunia terobsesi dengan kecepatan; berita harus sudah ditayangkan lima menit sesudah kejadian, perjalanan Asia-Eropa bisa dicapai dengan hanya 13 jam penerbangan saja, Paul Salopek melawan arus. Ia memperkenalkan slow journalism. Perjalanan ditempuh dengan berjalan kaki, kesuksesan bukan diukur dengan berapa jauh jarak yang ditempuh. Perjalanan bukanlah perlombaan melainkan peluang untuk menyaksikan peradaban yang terserak melampaui batas negara.

Paul mendapatkan penghargaan Pulitzer untuk laporannya dalam proyek Human Genome Diversity bersama Stanford University serta artikelnya mengenai pertikaian politik dan penyakit epidemi di Congo, Afrika. Ia sungguh jurnalis yang berbobot dengan kredensial mantap. He knows his shit. National Geographic fellow, kontributor bagi Chicago Tribune, Foreign Policy, The Atlantic dan banyak lagi. Paul loves his art and he is tremendously good at it, tetapi satu kualitas yang membuat essay nya saya baca lagi dan lagi adalah karena ia menjalani hidup dengan serius tanpa kehilangan keringanan hati dan selera humor yang tinggi.

Ia menemukan cerita dalam segala hal dan semua makhluk yang ditemuinya. Mulai dari Kirkatir si bagal hingga Pangeran Saudi yang pernah terbang ke luar angkasa. Dari gurun pasir terpanas di Afar Region hingga pelosok Jepang yang sama heningnya tanpa keberadaan manusia, dalam proyek ambisius OUT OF EDEN WALK bersama National Geographic.


Mule-o-logy.

Esai pertama yang saya baca. Dan bertahun- tahun kemudian masih membuat saya tersenyum.

First thing first: bagal bukanlah keledai. Bagal adalah hasil persilangan antara keledai dan kuda. Dan dunia bagal tidaklah sederhana. Rumit.

Bagal jantan disebut jack dan bagal betina dipanggil jenny atau molly. Ada banyak jenis bagal; bagal biru, bagal kapas, bagal kuda dan bahkan bagal tambang.

Sebagai hewan persilangan, bagal secara biologis steril, yang menjelaskan pandangan hidup mereka: menatap dunia dengan kemarahan. Orang Meksiko mempunyai ungkapan, “Dalam sehari bagal tujuh kali memikirkan cara untuk membunuh pemiliknya.

Bagal tidak mentoleransi nama. Bagal putih betina kami, sudah dibaptis dengan nama yang berbeda- beda oleh partner jalan saya. Deniz memanggilnya Barbara untuk alasan yang hanya ia yang tahu. Mustafa menyebutnya Sunshine. Murat memanggilnya Sweetie. John sang fotografer memanggilnya Snowflake. Favorit saya adalah Kirkatir, sebuah nama Turki yang berarti bagal abu- abu. Faktanya, seperti semua bagal, ia tidak menjawab nama apapun yang disematkan manusia padanya. Kirkatir tidak datang saat dipanggil atau saat disiuli. Dia datang saat ia ingin. Dan itu sangat jarang.

Saya: “Now I can relate, let me call my teen daughter Kirkatir.”

Bagal merupakan pemakan segala. Dalam perjalanan lintas negara dengan bermodal kaki ini, perutnya yang toleran merupakan kualitas yang bermanfaat. Kuda, terlalu picky eater. Tetapi, ada kerugian dari selera makan bagal yang luar biasa ini. Di Jordan, Selwa, salah seekor bagal, memakan tongkat jalan pemandu Bedouin kami. Tongkat jalan sangat susah ditemui di gurun pasir yang kosong. Pemandu kami menyumpahi Selwa. Beberapa hari kemudian, setelah pencarian yang intens, ia menemukan tongkat baru. Selwa memakan tongkat itu juga.

Saya: “Oooh, kemiripan ini semakin meresahkan. Grumpy, stealing food dan menolak menjawab panggilan.”

Jika suatu keajaiban terjadi, anak- anak mendadak sudah dewasa dan tidak membutuhkan saya, KPR rumah sudah lunas terbayar, dana pensiun sudah cukup untuk hidup hingga umur 150 tahun bak kura- kura sakti dan Paul kemudian tiba-tiba mengirim pesan whatsapp mengajak saya untuk meneruskan perjalanannya (kalau ia menelepon, saya tidak akan mengangkatnya. Milenial benci panggilan telepon), apakah saya akan segera mengepak koper dan mencium suami saya lalu terbang ke Tierra del Fuego atau ke sudut manapun Paul berada?

Hati saya berdebar kencang. Benak saya menjerit yes please! Tetapi malaikat penjaga saya akan mendudukkan saya dan menunjukkan 50 alasan kenapa hal tersebut tidaklah memungkinkan.

Alasan PERTAMA: Selama puluhan tahun kehidupan perkotaan yang glamor (uhuk) mengubah raga saya menjadi seringkih kapas. Tahun lalu, saya melangkah menyusuri garbarata, setelah perjalanan dengan pesawat terbang. Tertatih-tatih, saya menatap suami saya dan berkata “Aku bukannya mau ngesok ya, tapi mulai saat ini, kita nggak bisa lagi naik kursi ekonomi di budget airline kalau untuk terbang lebih dari lima jam. Punggungku kayak habis ditendang gajah dan bokongku mati rasa kena gangrene.”

Seminggu melintasi pegunungan Kaukus bersama Kirkatir, di desa Anatolia pertama yang saya temui, saya akan mengirim pesan WhatsApp ke editor National Geographic.

“Hi fam ❤️, about this project…. I don’t know, but should we pivot to OUT OF ANATOLIAN BEDROOM project instead? Also, do you happen to have in-house masseuse I can reach?”

Alasan KEDUA: Fobia saya terhadap para makhluk melata terutama bangsa ulat-ulatan. Jangankan lintah dan kelabang raksasa hutan Amazon, suatu sore saya bersepeda bersama anak laki- laki dan suami saya. Melintasi padang berumput, roda sepeda saya melibas batang-batang bunga liar yang tinggi menjulang. Mata saya menatap saat segumpal sesuatu terlempar ke udara, berputar sesaat dan…. mendarat di kaki kanan saya. Rasa dingin di kaki merayap ke dalam sanubari dan dengan kengerian yang memuncak saya menjerit. Suami dan anak saya yang sudah bersepeda 50 meter di depan saya berhenti mendadak mendengar jeritan membahana yang terdengar serupa mak lampir saat terkena lemparan kalung bawang putih.

Selama tiga detik dunia berhenti berputar. Ulat bulu yang sungguh sial mendarat di kaki saya meringkuk membeku. Tak pelak mempertanyakan perputaran nasibnya. Sedetik yang lalu santai-santai menikmati pucuk renyah dandelion, mungkin sambil membayangkan masa depan yang indah sebagai kupu-kupu jelita dan detik berikutnya terlempar ke betis wanita paruh baya dramatis. Suami saya tergopoh-gopoh menjatuhkan sepedanya dan berderap kearah saya. Dengan nafas megap-megap saya mencoba menunjuk kearah betis kanan saya. Ia menatap saya sejenak, tak pelak mempertanyakan kewarasan istrinya, lalu dengan satu sentilan ringan melemparkan si ulat bulu kembali ke tanah. Ia kemudian menjejakkan sepatunya keatas si ulat malang itu dan menggerusnya menjadi gumpalan lendir kehijauan.

“Sungguh jantan,” pikir saya sembari menatap penuh kekaguman seperti seorang remaja menatap personel BTS.

Sedetik kemudian, dengan murka saya mengomel “Kenapa harus diinjek sih? Kan ya udah biarin dia hidup?”

“You’re welcome,” kata suami saya kalem, berjalan kembali kearah sepedanya dan anak laki- laki kami.

Alasan KETIGA dan yang paling utama: pengetahuan saya akan arah, sebut saja NIL. Non-existent. Kalau saja garasi mobil tidak terletak di sebelah rumah persis, saya akan berakhir di kabupaten tetangga dalam perjalanan saya menuju ke mobil. Seorang teman SMA pernah berusaha membantu saya mengatasi kekurangan ini. “Bayangkan kamu itu di atas helikopter terus memandang jalan di bawahmu. Kan jadi jelas terbayang.”

Saya memfokuskan pikiran sejenak. “Gak bisa Gung, kalau aku yang naik helikopter, langitnya berawan. Tetap aja nggak keliatan jalan di bawah.”

Kalau anda pernah berada di dalam Bandara Soekarno-Hatta Jakarta, you know what I’m talking about. Toilet di dalam gate nya terletak di tengah- tengah, tersambung ke dua jalur di kiri dan kanannya. “Bentar aku ke toilet,” kata saya ke suami. “Kamu terus aja, kan gate kita hanya lurus kan?”

Suami saya mengangguk. Saya berjalan cepat kearah toilet, sudah kebelet. Lima menit kemudian, dengan gagah saya berjalan keluar. Berjalan lurus hingga ke ujung, dan saya sepenuhnya tersesat. Tidak ada suami, tidak ada pintu gate. Dengan tangan gemetar karena perpaduan malu dan panik, saya menelponnya. “Aku nggak tahu aku dimana….”

Suami saya menyuruh saya menunggu di tempat saya berdiri dan bertanya apa yang bisa saya lihat. “Oke, aku kesitu sekarang.”

Saat melihat sosoknya datang, saya langsung merepet “Aku nggak ngerti, kok bisa gak ketemu gate kita? Kan tinggal lurus aja!”

“Iya, emang mbingungi kok, soalnya toiletnya kan di tengah- tengah. Kamu belok kiri, padahal harusnya belok kanan,” hibur suami saya.

“Kamu jengkel ya harus nyari aku?”

“Enggak. I should have known. Harusnya tadi tak tunggu aja di toilet,” jawab suami saya lempeng.

Tubuh yang ringkih, absennya kekuatan mental plus buta arah. Sebetulnya masih banyak (ketiadaan) kualitas yang membuat saya harus merenungkan kembali impian untuk menjadi Paul Salopek, tetapi saya akan berhenti disini. Otherwise, pertanyaan yang timbul dari mereka yang membaca tulisan ini adalah “Terus, apa gunanya ya elu hidup?”

Okelah. Impian terbesarpun harus dilandasi realita. Saya mungkin tidak akan bertemu Kirkatir, tetapi saya bisa bercerita mengenai Jojo si anjing yang membusuk sebelum meninggal. Saya mungkin tidak akan mempunyai seorang pemandu Bedouin, tetapi saya pernah bertemu pemandu yang membuat saya mempercayai kemampuan saya mengendarai ATV menyusuri kelok- kelok persawahan di Ubud, Bali. It was the biggest scam of my life. Membayar mahal untuk satu jam penuh kengerian akan kemungkinan nyemplung ke pematang sawah. Didalam balutan sepatu boot pinjaman yang tiga nomer kebesaran dengan kelembapan yang hakiki. Disclaimer: suami saya menganggap satu jam dalam hidupnya itu sebagai petualangan terbaik. The problem, as always, was me.


Kalau saya bisa menjadi the lame version of Paul Salopek,
I would be a very happy human being.
Almost Salopek.
I think that’s doable.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 Comments

  1. makin cinta aku, sama engkoh sang legenda pemateri teori viskositas dalam kelas lunch di pizza hut jemursari, 26 tahun silam. makasih ya Ce, kehadiran mu dimata engkoh adalah menambah bangga dan kagum pada dirinya sendiri, ego pria nya menambah gelora, menganggap dia pahlawan sekaligus disaat bersamaan, jari jempolnya menebar foto selfi di grup WA…. ehhh