— E S A I · JULI 2026 —

Powerpuff Girls
feat. Wanita Selamanya 42

Tentang empat gadis belia teman makan siang,
toilet jongkok di Cina, dan momen seseorang menyadari
ia sudah naik pangkat menjadi calon ibu mertua.

Saya bekerja paruh waktu, tiga hari dalam seminggu. Bukan karena passion. Tapi B.U. alias Butuh Uang. Pekerjaannya santai, teman kerjanya menarik. Hiburan saya di tempat kerja? Potato cake berminyak dari kantin kantor setiap Jumat pagi dan segelas bubble tea setiap Rabu siang. Ohya, juga makan siang bersama empat gadis belia pertengahan 20an teman kerja saya.

Keempat gadis belia teman saya makan siang ini tampak serupa tapi tak sama. Tubuh langsing, rambut hitam tebal panjang, wajah so cute. Keindahan DNA masa muda dengan rambut yang masih setebal yeti dan kulit wajah mulus bak porselen. Hobi mereka semua sama: membeli snack gorengan sampah dari kantin. Tanpa mempengaruhi lingkar pinggang mereka.


Judo.

Gadis pertama bernama Judo. Kuku-kuku tangannya berganti warna setiap minggu. Minggu ini berkuteks pink muda dengan tempelan-tempelan permata keemasan tersebar di permukaan kuku palsunya. Minggu sebelumnya kukunya berwarna hijau muda dengan garis keemasan dan telunjuk kanannya ditempeli gantungan berbentuk tas mungil. Saya percaya ia adalah salah satu alasan kesuksesan salon kuku di daerah tempat tinggalnya.

Selain mengunjungi salon kuku, hobi Judo adalah mengikuti boot camp… judo. Judo selalu datang dengan wajah setengah teler di hari Senin. “Aku habis dua hari camping, latihan fisik dan lari 10 km bareng grup judoku,” keluhnya sebelum memulai membuka komputernya sambil tanpa henti menguap.

Di jam rehat, ia akan menunjukkan video kegiatan campingnya. “Look, we made tiktok dance video in the middle of our 10k run. It was so fun! We are so cute right?”


Matcha.

Gadis kedua bernama Matcha. Berponi, berkacamata, senyum yang sungguh manis dan wajah serupa anak SMA. Such a cutie pie. Matcha adalah sumber informasi terkini akan perkembangan vending machine baru di tempat kerja yang menyediakan berbagai jenis minuman kekinian. “Kopi frapucino dengan santan lagi diskon setengah harga minggu ini,” lapornya dengan khusuk. Saya mengernyitkan dahi. Itu nama minuman atau ujian kehidupan?

Sesibuk apapun Matcha, ia akan selalu berjalan kesana kemari dengan menenteng cup plastik berisi… matcha drink. Matcha adalah gadis yang selalu bertanya sebelum melakukan sesuatu dan meminta maaf sesudahnya. Apakah email yang ia kirim terlalu kasar? No it’s not. Sesudah mengirim email ia akan meminta maaf karena sepertinya email tersebut tidak tepat dikirim hari ini. Keraguan sering menghampiri Matcha, kecuali, rupanya, bila ada jambret yang perlu dikejar.


Lavender.


Gadis ketiga memiliki rambut paling panjang dengan kulit wajah super cemerlang. Lavender namanya. Ia datang bekerja dengan menenteng Stanley cup raksasa berwarna lembayung. Bajunya juga berwarna lembayung. Sepatunya? Surprise surprise, Adidas Gazelle lembayung. “Are you doing 50 shades of purple theme?” tanya saya suatu ketika. Saat berjalan bersama ke parkiran mobil untuk pertama kalinya, saya setengah kecewa melihat bahwa mobilnya berwarna abu-abu muda alih-alih keunguan.

Lavender berjalan seperti bulu yang melayang, karena di dunia Lavender, gaya gravitasi hanya sepersepuluh gravitasi bumi.


Brush.


Yang terakhir adalah Brush. Brush selalu datang ke kantor dengan langkah-langkah cepat dan wajah penuh tekad. Brush is a girl on a mission.

Jam setengah sembilan pagi, Judo masih setengah pingsan berusaha menyalakan komputernya. Matcha mengagumi cairan hijau di gelas plastik di hadapannya. Lavender memamerkan foto anjing putihnya yang tidur menelentang di kasurnya yang membuatnya terbangun dengan sakit punggung.

Brush akan meletakkan tasnya, menatap sekilas ke semua orang di ruangan, berucap halo singkat tanpa senyum, meraih laptop dan berderap menuju meeting pagi. Ia membuka pintu, menghempaskannya, dan kami semua mengarahkan pandangan ke arah pintu yang berdebam menutup sebelum melanjutkan aktivitas.

Kepergian Brush adalah pertanda sudah saatnya kami bekerja.


Rehat kopi pagi adalah saatnya keempat gadis ini kembali berkumpul di ruangan. Lavender selalu menjadi yang pertama melenggang masuk. Santai seperti bunga bakung di padang diberi keindahan. Hidup ini ringan di dunia Lavender, hanya terkendala sakit punggung karena piaraan tidak tahu diri. Ia lalu mulai mengirimkan pesan ke anggota Powerpuff Girls lainnya sambil berkata ke arah saya, “Why everyone always working so hard? Not like us.”

Judo akan menjadi yang datang berikutnya, dengan setangkup kertas yang seperti diraup dengan tergesa-gesa. Matanya setengah terpejam dan ia akan melesakkan tubuhnya ke kursi. Pintu ruangan terbuka dengan cepat dan masuklah Brush, masih dengan laptop yang terbuka di tangannya. “Where is Matcha?” tanyanya setelah mengamati siapa yang belum hadir.

Lavender kembali mengirim pesan ke Matcha. Lima menit kemudian Matcha datang berlari-lari kecil, dengan senyum ramah seperti anak kecil menghias bibirnya: “Sori, aku telat ya?” Tidak ada aturan Matcha harus memulai rehat paginya di saat yang bersamaan dengan pegawai yang lain, ia hanya selalu meminta maaf untuk segala hal.

“I want chicken tender,” kata Lavender sambil berdiri. Chicken tender adalah gorengan ayam kecil seharga 3 dolar yang selalu dibelinya setiap hari. “I will come with you,” kata Matcha, tak pelak ingin melihat pilihan minuman di vending machine. Judo melirik sekilas lalu memutuskan ia terlalu lelah untuk mengikuti mereka ke kantin. “No, I have grapes,” tolak Brush sebelum ada yang mengajaknya.

Kami berkumpul mengelilingi meja kayu bulat kecil yang satu kakinya lebih pendek dibandingkan tiga kaki yang lain. Uglak-aglik, definisi meja tersebut. Brush meletakkan laptop di meja dan mulai mengetik. “This person, he is so weird!” serunya sambil mulai menceritakan seorang kliennya yang tidak masuk akal. “Just ignore him, don’t help him,” komentar Judo sambil menguap.

“I won’t!” kata Brush menyetujui.



“Aku punya teman sejak SMA,” cerita Judo sekembalinya Matcha dan Lavender dari perburuan gorengan mereka. “Dia ngajak nonton konser musik sekalian ngenalin pacar barunya. Kalian kan tahu, music concert is not me, tapi ya demi temen gak papalah.”

Judo berhenti sejenak dan kemudian melanjutkan dengan dramatis, “Lalu kalian tahu nggak apa yang terjadi kemudian? Temenku itu message aku, ngagetin banget pesannya!”

Benak saya bersiap mendengar sebuah tragedi. Kecelakaan? Sakit parah? Nyokap meninggal? Rumah kebakaran?

“Dua hari sebelum konser, dia nulis pesan panjang lebar ke aku. Intinya, pacar barunya nggak sreg kalau dia menghabiskan semalaman di konser musik!”

Oh.

“Kalian tahu apa yang dia bilang? Aku harus berusaha memahami POV pacarnya!”

Koor suara terkesiap terdengar dari sekeliling meja. Mata Matcha membulat membesar. “Aw, that’s NOT nice,” komentarnya. Lavender memonyongkan bibirnya tanda bersimpati. Brush mengeluarkan dengusan sebelum berkata, “What a loser boyfriend.”

“Terus temen ku ini baru aja ngirim pesan lagi, ngajak aku keluar makan bareng dia dan pacarnya! Pacarnya oke kalau hanya keluar untuk makan bareng. Terus aku harus gimana dong? Awkward banget nggak sih makan bertiga? Gimana dong balasan biar nggak menyinggung perasaannya dia? Apa aku sebaiknya ngajak teman yang lain?”

Saya menatap Judo. Gadis ini minggu lalu membalap dan mengejar mobil seorang pria yang mengklakson dan menyalipnya lalu mengacungkan jari tengah ke arah pengemudi brengsek itu. Sekarang, ia berusaha mencari cara untuk menghindari perselisihan dengan teman yang menyebalkan. Kalau saya yang berada dalam situasi serupa, monolog internal di dalam otak saya hanya akan berucap “Elu annoying anying!” Lalu saya blok nomernya.

Lalu gantian Matcha bercerita. “Kemarin aku ke mall sama temenku. Lalu tasnya temanku digondol jambret. Aku ngejar jambret itu sampai ke dekat stasiun kereta sambil teriak-teriak. Akhirnya jambretnya mungkin bete, tasnya dilempar ke lantai.”

“You run after a thief?” tanya Lavender dengan mata membelalak. “Kamu nggak takut?”

Matcha tersenyum malu. “Ya soalnya kan repot kalau kita kehilangan dompet,” jawabnya.

Saya mendongakkan kepala dari layar hape saya. “Matcha, it is really not worth the risk!” kata saya dengan tajam. “You can always get a new driving license or ATM card. But you don’t know what the thief is capable of. Please don’t ever do that again!”

Matcha menatap dengan mata bulatnya yang melebar. Saya tersadar. Dengan tersenyum saya berucap, “Sorry Matcha, that was harsh. But please don’t ever chase a thief again,” ucap saya lebih lembut.

Dengan senyum bersalah Matcha berucap, “Ok Meg, I promise.”

Saya mengangguk kecil, tidak sepenuhnya mempercayai janji yang terucap.



“Lavender mengeluarkan suara terkesiap. “Ada diskon bubble tea di Uber One!” serunya tak percaya, menunjukkan layar hapenya ke sekeliling. “Kita bisa dapat diskon 20 dolar kalau beli 6 bubble tea yang sama rasanya.”

“Should we get it?” tanya Matcha. “Tapi ini baru hari Senin.”

Ketiga gadis itu berkumpul merubung Lavender. “Oooh, should we get the camelia oolong tea?” kata Lavender. “How about the cheese foam? Or is it better the apple milk tea?”

Mereka berdebat mengenai seberapa esensial cheese foam bagi orderan hari Senin mereka. “What do you think Meg?” tanya Matcha.

“Do I look like I care?” jawab saya kehilangan kesabaran. “Just choose! I’ll be retired by the time you guys decide.”

“You need to relax Meg. Just take a deep breath,” komentar Lavender.

Dua puluh dolar. Satu kali kelas renang anak saya.

“Oh, I need to show you this,” kata Judo menghampiri saya. Jari telunjuk pink dengan tempelan batu permata plastiknya mengetuk-ngetuk hapenya. “I saw this skirt, do you think it suits me?”

Saya membuka kacamata berbingkai pink yang saya pakai. Mata sudah rabun kodok kalau disuruh membaca huruf-huruf sebesar kutu. Di layar hape, terdapat sebuah gambar rok putih mini sebesar lap dapur di rumah. Forever 21, nama brand rok tersebut. “Tanya ginian ke wanita Selamanya 42,” pikir saya.

“White color suits you,” kata saya sambil menatap Judo, berusaha menilai kecocokan undertone kulitnya dengan warna rok tersebut.



“Brush membaca pesan di handphonenya dan mengeluarkan suara erangan. “Ni klien! Dia nggak ngerti apapun yang kukatakan. Come on Judo, you have to come with me. Your accent is better than me.”

“I thought you said he is annoying?” tanya Judo.

“Yeah, tapi aku mau dia tetap paham semua informasi penting! Kalau enggak sakit lagi dia!”

“Alright,” kata Judo sambil dengan malas berdiri.

“Oh iya, nanti aku yang ngerjain paperwork mu habis ini,” kata Brush ke Judo, balas jasa atas kesediaan Judo meninggalkan pekerjaannya untuk membantunya.

Matcha mengangkat tangannya seperti anak SMP hendak minta izin ke toilet. “I can do it! I can! I’m free!”

Judo melambaikan tangan kirinya berterima kasih ke Matcha, lengan kanannya ditarik oleh Brush. Matcha kemudian beranjak keluar juga, membawa tumpukan kertas milik Judo. “See you at lunch,” katanya.

Lavender menyelesaikan pesanan bubble tea. Ia melihat ke tumpukan barang yang harus diantar oleh keempat gadis itu dan berkata, “I’ll take them all. See you Meg.” Dan ia melenggang keluar. Tangan kiri memegang Stanley Cup lembayung, tangan kanan dipenuhi paket-paket untuk disampaikan menyetujui.



Pada waktu makan siang, setelah seruan-seruan bahagia sesudah sesapan pertama oolong tea dengan cheese foam mereda, Brush berkata, “Lavender, kamu kan orang Cina. Aman nggak kalau aku liburan ke Cina kalau aku nggak bisa pipis jongkok?”

“What do you mean kamu nggak bisa pipis jongkok?” tanya Lavender.

“Ya aku tu gak bisa ngarahin pipis gitu lho! Kan basah semua kakiku entar.”

“What do you mean? Kita kan cewek, it will just go straight.” Lavender mulai menunjuk-nunjuk di antara kedua kakinya, mencoba menunjukkan alur urin imajiner.

“It will splash ke kaki!” komentar Brush.

“Ya enggaklah! Kecuali kamu pipis sambil lompat-lompat,” kata Lavender mengkoreksi.

“Tapi gimana sih cara biar celana nggak basah? Do I need to take my pants off?”

“Gak perlu,” jawab Lavender, yang mendadak menjadi ahli toilet jongkok. “Duh gimana ya nunjukinnya, kan aku gak bisa lepas celana di sini.”

“Please don’t,” pinta Judo.

Lalu Lavender mulai memperagakan bagaimana menurunkan celana cukup sampai di paha. Brush berusaha menirukan. Berdua mereka berhadapan berjongkok dan mencoba mempergakan kegiatan pipis sambil jongkok. “Buka kaki lebih lebar,” nasihat Lavender.

“I can’t! I will fall.”

“Do the squat. Kamu ke gym kan?”

Matcha mengeluarkan telepon genggamnya dan mulai merekam. Judo berkomentar, “It’s not that deep Brush.”

“What do you mean?” sergah Brush. “This is really the breaking point! I really want to go to China but I can’t pee squatting.”

“Just don’t drink,” jawab Judo sambil mengangkat bahu.

“Atau mampir ke mall di tengah-tengah hari untuk pipis,” tawar Matcha.

Saya menoleh ke Matcha dan berkata, “Kirimin aku dong video rekamannya. You guys look ridiculous.”

“Kamu mau kukirim pake apa Meg?” tanya Matcha.

“WhatsApp aja.”

“Oh you use WhatsApp?” tanya Judo. Kekaguman menghiasi wajahnya.

“Old people use WhatsApp more you know,” balas Brush dengan yakin. “Meg is 40.”

“Hey…..” protes saya.

“I said 40. That’s accurate! I didn’t say you are 50!” kata Brush dengan keyakinan bahwa ia bertindak adil pada saya.



“Lima belas menit sebelum jam pulang, keempat gadis itu kembali berada di ruangan. Judo dengan stres menatap layar komputernya — ada klien baru yang harus ia selesaikan sebelum jam pulang. Matcha masuk dengan wajah seperti siap meneteskan air mata. Ada dua permintaan yang baru saja diterbitkan dan ia belum menganalisisnya. Brush mengetik di laptopnya dengan wajah penuh tekad. Tanpanya, dunia tidak akan berputar sebagaimana mestinya.

Lavender duduk di kursi putar. Sepenuhnya tenang. Semua kliennya sudah selesai, paperwork rapi. Stanley Cup sudah diisi ulang untuk perjalanan pulang. Ia menatap saya, rambut masih sempurna mengembang. “You good?” tanyanya.

Saya mengangguk. Kami berdua meraih tas kami dan berjalan keluar.

Sambil berjalan, kami mengobrol santai. “Kamu mengingatkanku ke ibu pacarku Meg,” kata Lavender.

“Oh. Is she annoying?”

“No! She is very lovely, just like you.”

“Thanks.”

Sambil menyetir pulang, saya menyetel Spotify dan kemudian berhenti di lampu merah. Lagu dari Spice Girls bergema — Mama I love you, Mama I care…

Hang on. Wait a minute. Saya menyipitkan mata. Did she… did she just compare me with her boyfriend’s mum? pikir saya terkesiap.

Saya berangkat kerja di pagi hari dengan semangat “40 is the new 20”.

Saya menyetir pulang dalam era “calon ibu mertua.”

Bleh.

Similar Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *