— E S A I · AGUSTUS 2026 —
Tidak Tampan,
Bukan Pecundang
Tentang half marathon, dua kotak tensoplast, dan izin untuk bersenang-senang.

Aku bakal ikut half marathon akhir tahun ini,” kata suami saya mengumumkan di suatu sore.
Melangkah masuk ke dalam rumah sepulangnya menyetir dari kantor, saya menghela nafas. This guy, bulan lalu pingin ikut ekspedisi ke Antartika, sekarang pingin ikut half marathon. Bulan depan apalagi? Ikut wajib militer di Korea Utara? This midlife crisis is getting more bizarre every month.
Lalu sibuklah suami saya mempersiapkan diri. Ia mencari sepatu lari online, mencoba menemukan sepatu yang sedang didiskon. Sepatu pertama datang, diskon 40 persen. Dengan berseri-seri ia membuka kotak sepatu dan mencoba sepatu cokelat muda yang masih segar mewangi. Berjalan-jalan di sekeliling rumah, seringai mulai muncul di wajahnya.
“Apa?” tanya saya curiga.
“Hehehehe. Kekecilan,” jawabnya sambil meringis.
“Mau ditukar?”
“Nggak bisa. Final diskon, gak bisa ditukar.”
Keledai saja tidak jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Tetapi suami saya tetap memilih berkubang di website sepatu dan kembali membeli sepasang sepatu tanpa mencobanya dulu. Sepatu kedua datang. “Pas banget ini, beneran kayak kulit kedua!” ujarnya senang. Dan selama tiga bulan kemudian, sepatu berwarna kuning neon itu menjadi cem-ceman baru.
Setelah berlatih selama sebulan, suami saya menemui fisioterapis yang mempunyai passion dalam hal maraton. “Her passion is 42km running, harus bayar lagi?” komentar saya heran. Sepulangnya dari sesi bersama fisioterapis tersebut, suami saya menemukan ilmu baru bahwa berlari maraton tidaklah sekadar just keep running. Tidak jika dia ingin menyelamatkan lututnya dari rasa sakit yang kronis. “Harus panggul yang gerak, bukan dengkul.”
“Oya, juga ternyata aku harus nutup pentilku pake tensoplast biar gak lecet,” tambahnya.
Suami saya berdiri di depan pintu rumah. Panggul bergerak perlahan seirama penari hula, paha digoyang-goyangkan. Ia lalu menempelkan tensoplast di dada, meraba-rabanya dengan lembut dan penuh perhatian. Memasang kaos Nike hitam yang disarankan influencer kalcer sebagai kaos khusus lari. Berjongkok memakai sepatu lari kuning neon, melambaikan tangan sambil menyeringai lalu melesatlah beliau di jalanan kampung.
Saya berdiri diam. Terhipnotis. Perlahan saya berjalan menghampiri lemari obat, membukanya dan menenggak sebotol penuh Mylanta.
Dua kotak tensoplast kemudian, suami saya kembali membuat pengumuman. “Aku bakal lari tiga kali dalam seminggu.” Dengan gagah mendeklarasikan di antara napas yang kembang kempis.
Sementara suami saya sibuk bergelut dengan tensoplast, saya juga sedang menghadapi dilema saya sendiri. I want to write again. I need to write again. Saya berpikir, berkontemplasi, di mana dari waktu saya selama seminggu ini yang bisa saya alokasikan untuk menulis? Saya bekerja sebagai budak korporat tiga hari dalam seminggu. Weekend, hmmm, mungkin bisa lah mencuri-curi waktu sebentar. But I will need a block of time. Saya tidak bisa menulis hanya in between tasks. Mencuri-curi waktu nyambi sesuatu itu hanya cocok untuk kegiatan melipat sempak dan kaos kaki.
Realistisnya, saya mempunyai hari Senin dan Selasa, dari jam 9 pagi hingga jam 3 sore, yang bisa saya pilih untuk menjadi waktu saya fokus menulis. Sekilas, terasa gampang. Ada dua belas jam waktu ‘bebas’. Tetangga sebelah rumah saya yang berusia 80 tahun dan tidak memiliki anak pernah bertanya, “Kenapa kamu nggak kerja full time? Kan anak-anak sudah di sekolah semua? Kamu nganggur dong dua hari?” Ia bertanya saat saya sedang bersiap menjemput anak saya ke sekolah.
Saya mengangguk-angguk. Sambil berpikir ngapain aja ya gue seharian, kok rasanya capek banget dibanding pas ngantor?
Suami saya menginterupsi. “Aku mau lihat mobil di dealer. Ayo ikut.”
Kami sudah beberapa saat merencanakan untuk membeli mobil baru. Mobil tua kami, sudah tidak mempunyai stamina yang memadai untuk perjalanan bisnis yang sering dilakukan suami saya. Michael, sales di dealer mobil menyapa kami. “Saya butuh mobil dengan 7 kursi, soalnya sering kedatangan keluarga,” jawab suami saya.
“Juga saya maunya plug in hybrid, jadi bisa dipakai sepenuhnya dengan tenaga listrik, tapi juga bisa sepenuhnya bensin karena saya sering menyetir ke daerah pedalaman.”
Michael mengangguk-angguk.
“Juga, budgetnya terbatas,” tambah suami saya, tersenyum ramah.
“Lanang kakean karep,” renung saya. Pria kebanyakan cingcong.
Michael menunjukkan mobil 7 kursi plug in hybrid berwarna abu-abu kepada kami. Suami saya meminta test drive dan Michael meminta SIM-nya untuk keperluan administrasi.
Sambil menunggu suami saya kembali dari perjalanan mengambil SIM di mobil kami, Michael mencoba mengajak saya mengobrol. “Sekarang nyetir apa?”
Saya berpikir keras. “Umm, don’t know. A car?”
“Fair enough,” jawab Michael.
Sekembalinya dari test drive, suami saya berkata “Enak sih nyetirnya, tapi kursinya agak keras ya?”
Saya mengiyakan. Untuk perjalanan jauh, punggung bobrok kami berada dalam bahaya jika kursinya mengingatkan pada kopaja.
Dalam perjalanan pulang ke rumah, saya berdiam diri. Suami saya, tidak terbiasa dengan aura zen penuh kedamaian yang terjadi, menoleh sejenak. “Lagi mikir?” tanyanya.
Saya mengangguk, melanjutkan perdebatan internal di otak saya mengenai to write or not to write. Saya tak sengaja menatap suami saya, dan tiba-tiba suatu pikiran terlintas. Wait a minute, saya dan suami saya sama-sama sedang berada dalam titik di mana kami ingin melakukan sesuatu just for ourselves. Dia dengan maratonnya, saya dengan tulisan saya. Then why did we approach the subject from such different angles?
“This is like ramen thing all over again,” pikir saya.
Saat kami sekeluarga pergi ke restoran ramen, suami saya akan dengan segera memilih menu yang ia inginkan. Paling sering, seventh-hell burn spicy level ramen dengan warna kuah merah lava. Sementara saya? Menunggu anak laki-laki kecil saya memilih. Biasanya ia akan memilih tonkatsu ramen. Saya kemudian akan memilih menu ramen lain yang juga aman; ramen soya. Just in case anak laki-laki saya tidak suka pilihannya dan minta tukar. Walau sebetulnya yang saya inginkan adalah ramen tinta cumi dengan kuah hitam sekental lumpur Lapindo.
Kenapa aku selalu merasa bersalah kalau aku mau seneng-seneng untukku pribadi?
Saya menoleh ke suami saya dan mulai membagikan isi otak. “Kamu merasa berhak untuk melakukan sesuatu yang untuk kebahagiaanmu pribadi. Kamu memutuskan kamu pingin marathon, dan kamu mendeklarasikan apa yang kamu butuhkan untuk mencapai targetmu. Lari tiga hari seminggu. Gimana ngatur jadwalnya? Urusan belakang. Sementara aku, sebaliknya. Langsung mikir sendiri kalau aku nyari waktu untuk nulis, waktu untuk keluarga yang mana yang harus dikorbankan?
“Tapi aku kan bukannya masa bodo gitu lho, pas bilang aku mau lari tiga kali dalam seminggu,” protes suami saya.
Mungkin merasa disamakan dengan cerita tentang para suami yang kabur mancing sehari-harian, meninggalkan istrinya di rumah berjibaku mengurus anak sendirian di akhir pekan.
Saya menggelengkan kepala. “Enggak, ini sama sekali bukan kritik. For once, kamu gak salah. Aku sendiri juga kaget kok bisa kamu gak salah.”
“Jahatnya,” kata suami saya sedih.
“Aku lho muji,” kata saya. “Kamu merasa kesenangan pribadi dan kebaikan keluarga itu bisa berjalan beriringan, bukan kontradiksi. Seharusnya aku juga kayak gitu.”
“Aku laper,” kata suami saya memelas.
Lalu mampirlah kami ke sebuah restoran Afghanistan. Saat pelayannya membawakan semangkuk lamb curry dan borani banjan; masakan terong khas Afghan, kegaduhan jiwa saya menjinak. Sang pelayan datang lagi, kali ini membawa keranjang bambu berisi dua roti raksasa. Tak bisa ditahan, kami berdua terkekeh-kekeh takjub. “Mana bisa ini kita ngabisin, paling satu aja sisa,” komentar saya. What a liar, kelak roti habis hingga ke remah-remahnya.
“Menulis itu penting banget ya buat kamu?” tanya suami saya quietly.
Saya merasakan air mata merebak di pelupuk mata. Cepat-cepat mengejapkan mata dan menganggukkan kepala.
“Iya,” jawab saya, berusaha terdengar santai.
Suami saya menatap sejenak, kemudian melanjutkan menyendok kari dengan rotinya. Masih tetap berkomentar “Nggak akan habis ini roti. Gila aja!”
Hari Sabtu, setelah selesai mengantarkan anak laki-laki saya bertanding sepakbola tarkam, suami saya membuka laptopnya. Tiga jam kemudian, ia memperlihatkan layar laptop ke saya. “Gimana kalau gini kira-kira susunan blognya?” tanyanya.
Saya menyembunyikan senyum. “Oke sih,” jawab saya. Lalu saya memeluknya.
“Kurang sayang apa coba aku? Kamu elek gitu aja tak belani bikin blog,” kata suami saya.
“Lambemu!” gerutu saya, melepas pelukan.
Sepanjang Sabtu dan berlanjut ke hari Minggu, ia sibuk berkutat di depan laptop. Hati saya mulai gelisah. This is too much. Terlalu lama. Sekarang sudah hampir jam 6 sore, sebentar lagi sudah Senin. Suami saya belum berlatih maratonnya, sepatu kuning lemon bosoknya masih tergeletak rapi. Anak saya menonton TV alih-alih bersepeda bersama Bapaknya di Minggu sore. Hampir, nyaris saya berucap “Forget it. It takes too long. Too much effort. Udah kapan-kapan aja lah.”
“Kok lama ya ternyata bikin blog?” tanya saya dengan suara kecil.
“Lha mbok pikir nggoreng pisang ta, cepet?” sentak suami saya tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya. “Kamu mau warna emas atau ungu untuk background?”
Dua minggu kemudian, blog dan Instagram saya siap. Dengan background cokelat sendu seperti ayam panggang setengah mentah.
Suami saya tahu saya sungguh ingin menulis. And that is enough reason for him. Tidak perlu saya membuat bagan dan proposal. Ia hanya membuka laptopnya. Tak lupa diselingi komentar tercela mengenai tampang saya.
Tidak tampan. Bukan pecundang.
My husband, ladies and gentlemen.

This is too sweet and I’m crying like a baby right after finish reading it 😭😭😭😭😭
selain irung turah dan lambe turah, engkoh juga berhati murah, banyak kisah hangat yg dia lakukan untuk mewujudkan keinginan orang2 yg dia cintai, bahkan saat ide masih dlm pikiran, dg logika cintanya dia berusaha menerjemahkan & mewujudkannya.
Salah satu kisah heroik yg pernah diceritakan, ada “bulek minul” yg dibuatkan kandang wedhus, agar bisa berdikari saat ditinggal engkoh merantau, idenya sederhana, agar simpanan wedhusnya bisa lahiran 2x setahun. Kalo ga salah lokasinya di Kediri, ehh atau Blitar ya? entah, dia juga gelagapan saat ditanya orang baru kenalan, yg asalnya dari Kediri : “lho Kediri mana? desa apa? saya lahir & besar di Kediri.”
Pathological liar ancene engkoh ini. Gak ada untungnya, banyak mudharatnya aja tetep memilih mengarang cerita. Puas pasti teman kita yg melihatnya tenggelam dalam kebohongan yang digalinya sendiri
I Love thisss !!! Ngakak plus terhuraaa …. Suami istri yg level nya udah life partner banget