— E S A I · AGUSTUS 2026 —

Dirty Bertie,
Versi Rebahan

Tentang Antartika tiruan, sachet Tolak Angin, privilege yang senyap, dan seorang pemuda yang memilih merangkak di lumpur.

Aku pingin nyoba masuk ke Antarctic Centre,” kata suami saya tiba-tiba mengumumkan. “Pingin ngerasain gimana di Antarktika.”

Saya menatapnya dengan setengah heran. Pria yang selalu memakai kaos kaki di malam hari, membenci segala hal yang berkaitan dengan salju dan es seperti ring ice skating di Bintaro serta menolak impian saya untuk menghabiskan masa pensiun di gunung, dan sekarang menyatakan dia ingin merasakan tiruan salju dan suasana di Antarktika, biangnya dingin? Tetapi dengan cepat pikiran saya menerima keabsurdan impian siang bolong beliau.

Pergilah kami berdua ke satu gedung yang menyediakan ruangan tiruan Antarktika. Satu jam kemudian, kami keluar dari gedung tersebut dan suami saya menyatakan bahwa impiannya untuk merayakan ulang tahun ke-50-nya kelak adalah perjalanan pesiar ke Antarktika. Sebagai istri idaman, saya segera meletakkan Antarktika dalam folder: penting bagi kelanggengan perkawinan.

Antarktika di khayalan saya; parka oranye tebal, topi wool bulu lucu dengan pompom di atasnya yang akan menyembunyikan gejala rambut rontok pre-menopause, berjalan diantara penguin yang terserak mengerami telur dan koloni anjing laut yang bergelimpangan bak suami saya sehabis makan siang. Kapal pesiar mewah dengan jendela-jendela lebar sebagai dindingnya yang menjadi bingkai glasier-glasier raksasa yang menghijau saking jernihnya. Menyesap cokelat hangat yang bukan sekelas milo dinosaurus ala kantin sekolah anak saya, terapung di ujung dunia dan menunjukkan kepada semua orang (alias seorang teman yang sudah ke Jepang tujuh kali) betapa saya sudah berhasil menaklukkan dunia. “Lu pamer pergi ke Jepang memberi makan rusa? Gue pamer nggak sengaja menginjak taik pinguin dengan sepatu boot super mahal yang tidak akan bisa dipakai lagi dimanapun.”

250 juta untuk perjalanan selama 12 hari. Saya dan suami mungkin bukan hot couple, tetapi kami jelas akan menjadi a very very cool couple. Saya harus semakin rajin membeli togel.


Tersebutlah seorang pemuda berkebangsaan Inggris bernama Bertie Gregory. Sebagai seorang pembuat film alam liar, Antarktika di dunia Bertie adalah antitesis dari khayalan saya. Bermalam di dalam tenda seukuran tenda pramuka anak sekolah dasar berwarna kuning terang, dengan angin kutub yang menderu-deru dan salju yang membutakan mata. Begitu ekstrimnya cuaca hingga untuk berpindah dari satu tenda ke tenda lain saja, ia dan timnya harus berpegangan erat pada tali penuntun. Tanpa tali itu, perjalanan sejauh lima meter ditengah badai salju yang menggila akan berakhir dengan penemuan mayatnya 500 meter di kanan tenda.

Selama simulasi badai Antarktika yang berlangsung selama 30 detik di Antarctica Centre, saya merasakan definisi dingin yang berbeda. Bukan seperti dingin disaat saya membuka ruangan pendingin di rumah sakit tempat saya bekerja dan menghabiskan 10 menit mencoba mencari obat yang disimpan disitu sambil bersumpah serapah. Dingin kutub tajam menembus hingga belikat terdalam, bahkan dengan perlengkapan khusus. Dan suara serta hembusan anginnya membuat saya berpikir “Now I get it, ungkapan tentang alam sedang murka.”

“Aku kayaknya masuk angin,” keluh suami saya di malam hari.

Bertie Gregory menghabiskan lebih dari 30 hari di kondisi serupa, kondisi yang saya hanya bisa bertahan 30 detik dan suami saya menghabiskan malam dengan menyesap sachet Tolak Angin. Bertie tidak hanya harus bertahan hidup di tengah situasi yang ekstrim, tetapi harus memanggul dan menggeret alat-alat super berat dan mencoba mengikuti dan merekam pinguin dan paus bongkok.

Dua video kemudian, saya terperangkap pada cinematic yang dihasilkannya. Satu jam yang membuat hati saya merasa berada di Antarktika menyaksikan bayi-bayi pinguin menjatuhkan diri dari puncak gunung es ke lautan gelap tak berdasar. Bertie bekerja dalam suhu minus, minus sumpah serapah seperti saya.

Suami saya ikut menonton di sebelah, bulu kuduknya berdiri dan tanpa sadar ia mengambil sebungkus Tolak Angin dan menyesapnya.

Selesai menonton, saya berpikir, apa yang membuat pemuda sebelia ini berhasil mendapatkan gig super bergengsi ini? How come? Berapa banyak filmmaker di luar sana yang sudah menghabiskan belasan tahun dan belum menjadi household name. “Kamu tahu di mana kaos kaki thermalku?” tanya suami saya dengan suara sengau sambil membuang ingus ke tisyu.

“Macho banget,” cibir saya.

Oh. Oh. Mungkin ini kenapa Bertie berhasil mendapatkan kesempatan di usia sebelia ini. Menonton suami saya di layar TV akan memberi ilusi bagi pemirsa bahwa ia adalah bintang iklan jompo produk Tolak Angin. Bertie, di lain pihak, dianugerahi privilege yang membuat mata dan telinga penonton merasa dimanjakan bahkan sebelum ia mulai beraksi. Aksen British yang seksi, rambut pirang, belia dan wajah yang enak dipandang mata. Kemudaan dan ketampanannya strikingly kontras dengan lingkungan liar dimana ia berada; jip di tengah savana atau kapal kecil yang terombang-ambing di tengah laut Antarktika tak berujung.

Bertie sepantasnya menjadi podcaster populer yang hilarious. Casual, santai, good looking, sharp. Mungkin membuat seri gym buddy. Alih-alih, ia memilih merangkak-rangkak di bentangan pantai berlumpur selama berhari-hari. Semua demi berada di kode pos yang sama dengan serigala pesisir di pulau terpencil di British Columbia. Dirty Bertie.


Seperti Bertie yang terberkati dengan privilege wajah dan latar belakang yang menimbulkan empati, saya pun mempunyai satu contoh privilege yang saya alami sendiri. Tentu tidak dalam skala monumental. Puluhan tahun lalu di jaman kuliah, saya terpilih menjadi salah satu delegasi kampus untuk menjadi mahasiswa berprestasi. Lima mahasiswa terpilih dari ratusan mahasiswa. Bagaimana itu mungkin? Dugaan saya karena salah satu pimpinan kampus yang berwenang menunjuk, mengenal nama saya. Tidak rugi juga saya berteman dengan salah satu gadis terpopuler di kampus, Putri. Putri adalah tipe gadis yang membuat semua kepala berputar saat ia memasuki ruangan. Jadi mungkin benak pemimpin kampus berputar dan memutuskan kami berdua akan menjadi yang dipilih.

Walaupun saya dan Bertie sama-sama menikmati privilege yang membuat satu pintu sedikit terbuka bagi kami, ada perbedaan sangat fundamental dari respons kami. Bertie bekerja keras, lebih keras dari siapapun. Ia pergi ke sudut lebih jauh dari filmmaker lain. Ia bertaruh nyawa, ia mendorong dirinya untuk menjadi lebih baik lagi di proyek berikutnya.

Saya di sisi lain, berkeluh kesah setiap harus mengikuti pelatihan yang diadakan di hari Sabtu. “Kapan aku pacarannya,” keluh saya pedih. Saya tidak mendengarkan dengan tekun materi berbobot yang diberikan, saya memperlakukan kesempatan berharga yang dijatuhkan ke pangkuan saya dengan mentalitas “Heeeeh, ya sudahlah dijalani saja. Untung tiap Sabtu banyak snack yang tersedia dan saya bisa mengoceh bersama teman-teman saya.”

Satu-satunya manfaat yang saya dapatkan dari privilege itu adalah sesuatu yang instan dan dangkal; uang saku dari kampus yang saya gunakan untuk membeli Quickly bubble tea setiap hari sepulang kuliah. I wasted the golden opportunity given to me.

Semesta membuka sedikit pintu bagi Bertie untuk memasuki dunia pembuatan film yang kompetitif. Bertie tanpa ragu dan keras kepala menendang pintu tersebut lebar-lebar. I am here to stay. Dan tidak bisa tidak, semua mata akan menyetujui bahwa dedikasinya dalam melakukan hal yang ia cintai, adalah balasannya bagi dunia.

Menatap Instagram saya, melihat story Putri dan berpikir anugerah paras (teman) yang rupawan bisa jadi aset. Saya akan menelepon Putri sehabis ini dan mengajaknya membentuk duet podcaster; Putri dan Porter.

The privilege of having doors opened for us is loud and very nice to have. But the most fundamental privilege can be much subtler. It determines how we enter the room.

Saya pun punya privilege. Lagi-lagi, bukan dalam skala paus bongkok. Lebih tepatnya, skala ikan sarden kalengan, yang walau tampak sangat biasa, seiring bertambahnya usia, saya menyadari betapa luar biasanya privilege ini. Saya punya orang tua yang sungguh mencintai dan membanggakan saya tanpa syarat. Masa kecil yang memberi rasa aman dan sepenuhnya diterima. Saat saya memasuki ruangan, saya memiliki keyakinan bahwa I am fine. Saya tidak perlu menskrening ruangan, memetakan siapa yang menerima saya. I just automatically assume people are fine with me. Dan karena energi saya tidak habis untuk berjaga-jaga, saya mempunyai sisa ruang untuk menikmati orang lain, terpukau akan segala pencapaian mereka.


Saya kembali melanjutkan menonton video Bertie. Perlahan saya terhipnotis antusiasme yang ditunjukkan olehnya. Sementara Sir David Attenborough memandang lautan dengan penghargaan yang khusuk, Bertie tersenyum dari ujung ke ujung bibirnya. Bertie masih tidak bisa percaya bahwa lautan itu ada. Terbentang di hadapannya. Bertie memandang lautan seperti anak kecil pertama kali memandang roket yang akan terbang ke bulan. Takjub, girang, heran dan terpukau. Tanpa filter, tanpa dijinakkan. Kecintaannya terhadap lautan menular. His infectious joy. Dari matanya, saya ikut memandang dunia dengan ketakjuban seorang anak berusia lima tahun.


And that’s the key. I came because he is gorgeous. I stay because he makes life less grey. Be more like Bertie. Be more like Dirty Bertie.

Horizontally inclined, with an open laptop.


Similar Posts

  • Almost Salopek

    — E S A I · MEI 2026 — Almost Salopek Tentang hidup yang penuh, nothing is mine, perempuan bersepatu boot, dan bagal pemarah. Anak perempuan saya baru memenangkan salah satu kategori dari lomba jazz se-Australia yang diikuti 5000 anak SMA dari 100 sekolah yang berbeda. My heart is painfully full. Saya menunggu- nunggu fotonya…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *