— E S A I · SEPTEMBER 2026 —
This One, I Keep
Tentang Elle Woods, golden vs chihuahua, walkie-talkie, dan sahabat yang masih rajin di wa.

Saya sebut namanya Elle Woods, seperti sosok legendaris di film Legally Blonde. Pirang, rupawan, trendi dan aura farming banget. Dan surprise surprise, Elle berotak cemerlang (lulusan Harvard Law School, sekolah yang sama dengan The Obamas) dan juga baik hati dan loyal. Salah satu sahabatnya? Nail lady yang gaji per tahunnya setara dengan harga tas tangan Elle.
Di dunia nyata, saya mengenal seorang cewek yang serupa dengan Elle. Kecantikan yang klasik, selera berpakaiannya impeccable, wajahnya teduh, kulitnya halus, otaknya brilian. Ia adalah kakak kelas saya. Di masa SMA, tidak ada seorang anak dan guru di sekolah kami yang tidak mengetahui namanya. Paskibra ikut, lomba debat pun hayuk, OSIS jelas selalu terlibat dan akademik selalu ciamik. Di atas semuanya, kesabaran dan kebaikan hatinya, kelembutan budinya, kerendahhatiannya mengalahkan semua kualitas beliau yang lain.
Belasan tahun kemudian, saya mendengar berita tentang kepergian beliau yang sungguh mendadak. Tidak hanya keluarga dan teman dekat beliau yang tersentuh, saya yang hanya mengenal beliau sekilas karena kami pernah berada di satu tim dalam lomba debat (satu-satunya kebisaan saya, nyocot tiada henti), merasakan kesedihan. Oh no, why her? The most beautiful soul (and face) in the world. Tuhan lebih sayang beliau, maka dipanggil pulang secepat ini adalah konsensus umum menanggapi berita duka ini.
Terkadang, memang dunia itu selebar daun kelor. Sahabat saya Putri berakhir menikah dengan mantan suami almarhumah. Suatu kali ia berkisah bahwa sampai detik ini ia masih every now and then merasakan sengatan kecemburuan pada sosok almarhumah. Bukan karena cinta suami terbagi dua atau cerita sejenis sinetron lainnya, tetapi karena almarhumah adalah sosok yang kebaikannya, kesabarannya, keramahannya, kepintarannya, notok jedok tak berbatas. Semua orang yang pernah berhubungan dengan beliau, merasakan kehangatan dan kebaikan pribadi beliau. Inner dan outer beauty bersanding sempurna. “Bagaimana aku bisa bersaing dengan sosok yang sedemikian sempurna?” curhat Putri.
“But you are alive!” seru saya. Respon otomatis yang mengejutkan diri saya sendiri.
Saya memutar otak, mencari cara untuk menghibur Putri. “Put, kamu tahu kan istilah golden retriever people? Di Instagram itu istilah untuk orang-orang yang kayak anjing golden gitu, yang bulunya pirang, cantik, hangat, ramah, mudah berkawan. Orang yang baru ketemu si golden ini bakal langsung jatuh cinta. Nah almarhumah itu seperti itu. Nah, kalau kamu, itu kayak chihuahua. Ya ada orang-orang yang cinta banget sama kamu. Sisanya yang sekedar lihat ya…. enggak.
“Asem,” jawab Putri.
“Lho, fokusnya itu meskipun bentukmu sama hatimu gak menarik, tetap ada orang-orang yang mencintaimu,” jawab saya membela diri.
Putri tidak terkesan. Ia gagal memahami kedalaman filosofi saya.
Suatu pagi di tahun 2000. Saya memarkir mobil Katana rongsokan saya, bergegas berlari menaiki tangga fakultas Farmasi. Nyaris telat menghadiri kelas pertama saya sebagai anak kuliahan. Saya masuk ke ruang kuliah dan clingak-clinguk mencari kursi. Melihat sebuah bangku kosong di pojok, saya bergegas menghempaskan bokong saya. Menatap sekilas ke seorang gadis yang duduk di sebelah saya. Duduk manis dengan kemeja cute yang terseterika rapi dengan rambut hitam lebat lurus sebahu. Saya menyeringai ke arahnya, melambaikan tangan yang pergelangannya dihiasi wristband tenis warna-warni yang cool di zaman itu (bagi saya sendiri).
Dosen masuk. Saya membelalakkan mata. Mencondongkan diri ke gadis di sebelah saya, berbisik “Ganteng banget!”
Gadis itu tersentak. Dan mengarahkan pandangan ke sekeliling. Tak pelak berdoa semoga tidak ada orang lain yang mendengar bisikan saya.
Setengah waktu perkuliahan, saya kembali mencondongkan badan ke arah gadis di sebelah saya. “Aku baru aja jadian sama temen SMA ku,” ujar saya berbisik-bisik.
Gadis itu, Putri, menatap saya dengan mata membelalak, mungkin heran kenapa ada makhluk jadi-jadian dengan gelang wristband warna-warni yang tahu-tahu berbisik-bisik di sebelahnya, membagikan berita unfaedah di tengah perkuliahan. Dan sejak saat itu, kami bersahabat.
Masih berpakaian seragam putih-putih sehabis upacara penerimaan mahasiswa baru, Putri menemani saya menghadap ke sekretariat kampus. Alasannya? Kartu mahasiswa saya raib. “Lha baru aja dilantik jadi mahasiswa, kartu mahasiswamu sudah hilang?” tanya Bapak petugas tidak percaya. Saya cengar-cengir malu, sementara Putri di sebelah saya berdiri dengan pandangan kosong. Persahabatan yang sudah menyusahkan di hari-hari pertama. Putri berada di samping saya pada fase kecanduan yang saya alami. Quickly. Minuman bubble tea yang membuat saya seperti zombie sakaw, menggeret Putri sepulang kuliah untuk menyambangi konter Quickly. Saya yang minum Quickly setiap hari dan Putri yang merasakan kemuakan menyaksikan saya menyedot butir-butir boba dengan sedotan yang sebesar batang pohon. Yet, day in and day out, Putri siap menemani perburuan boba saya. Dengan wajah yang semakin lama semakin suntuk tentu saja.
Putri pula yang mendengarkan saat demi menghemat biaya pacaran, saya dan pacar saya memutuskan untuk mencoba berkomunikasi dengan memakai walkie-talkie. Maklum, sebagai mahasiswa bokek, kami berusaha mencari cara untuk berhemat. Walkie-talkie mungkin sarana yang tepat untuk acara mendaki gunung atau jambore pramuka. Atau mungkin dalam operasi militer. Namun dalam percintaan, efeknya kurang baik. “Bukannya aku kasar, tapi kan pake walkie-talkie ngomongnya harus singkat,” kata pacar saya memelas, setelah saya menuduhnya tidak sayang lagi.
Walau saya menyamakannya dengan chihuahua, Putri sejatinya adalah seorang gadis dengan paras sangat menawan. Berjalan berkeliling kampus dengannya membuat saya lambat laun menyadari, hmmm, kayaknya dia ini cakep. Paling tidak menurut para pemuda 20 tahunan penghuni kampus.
Angkatan kami memerlukan dana. Kami memutar otak mencari cara untuk menggalang dana. Jualan baju bekas, jualan jus di bazar kampus dijabani. Lalu saya melihat kontes rambut indah yang disponsori sebuah merek shampoo. Melihat banner lomba tersebut, lalu memandang Putri yang sedang dikagumi diam-diam oleh para pria 20 tahunan. Sebuah pikiran jenius merasuk. “Put, kamu ikut lomba rambut indah ini! Lumayan kalau menang kita bisa dapat hadiah duit!” perintah saya.
Menjelang acara naik ke panggung, Putri berubah pikiran. “Jangan aku lah, malu banget naik panggung ngibas-ngibasin rambut,” pintanya.
Saya menatapnya galak. “Lha kalau bukan kamu siapa? Lihat rambut kami semua, kayak buntut tikus gini! Udah jangan manja! Take one for the team!”
Berjalan turun dari panggung, Putri bergumam, “Ternyata hadiahnya paket perawatan rambut.”
Suatu ketika kami berdua dipilih oleh Dekan untuk mewakili fakultas dalam acara pelatihan kepemimpinan yang diadakan kampus. Berdua kami menginap di suatu hotel di Malang bersama puluhan wakil mahasiswa dari fakultas lain. Dua hari di hotel membuat saya tersadar, Putri likes people. I dislike people in general. Di kampus, mahasiswa lain akan mendekati Putri dan mereka akan bercengkerama dengan hangat. Saya di sebelahnya berpartisipasi dengan satu senyum atau satu komentar disana-sini. Normal by proxy. Putri membuat saya tampak normal di mata orang lain.
Selama acara, saya belajar caranya menjadi pemimpin bangsa di masa depan. Sampingannya, saya belajar bagaimana menjadi asisten pribadi seorang artis. Telepon di kamar hotel yang saya tempati bersama Putri tak pernah berhenti berdering, silih berganti para pemuda harapan bangsa bertanya apakah benar ini kamarnya Putri. “Lagi di toilet, sembelit,” jawab saya ketus.
“Titip pesan ya kalau begitu, dari Doni FISIP,” jawab suara ceria di ujung telepon.
Selama dua hari acara di hotel, saya menyaksikan bagaimana Doni dari Fisip, Andi dari Sastra dan belasan pemuda lainnya mencoba mendekati Putri. Fajar dari Komunikasi mencoba peruntungannya untuk merajut masa depan yang sakinah bersama Putri. “Kalau ke kampus naik apa?” tanya Fajar.
“Biasanya naik angkot,” jawab Putri.
“Aku anter aja ya kalau gitu lain kali. Kan buku bawaannya banyak untuk praktikum. Enak naik motor,” kata Fajar, menawarkan motornya bak kereta kencana.
“Rumahku mah dekat, gak usah,” jawab Putri. “Mega itu yang rumahnya jauh, kamu tawarin dia aja.” Putri berpikir bahwa kebaikan budi pekerti adalah motif Fajar menawarkan jasa antar jemput.
Saya menatap Fajar. Fajar melirik ke arah saya. Saya menahan seringai yang siap tersungging, menyaksikan Fajar mencoba memeras setiap ilmu komunikasi yang sudah dipelajarinya untuk melepaskan diri dari situasi aneh ini. “Aku malah harus ganti angkot dua kali,” komentar saya polos. Mata saya tak berkedip menatapnya.
Perjalanan pulang dari hotel ke kampus, tiba-tiba rasa ingin tahu para mahasiswa akan cara mengonsumsi obat yang baik dan benar meningkat pesat. “Kenapa sih, cowok-cowok itu tanya-tanya terus soal obat?” tanya Putri heran. “Kenapa mereka gak pernah nggangguin kamu sih?” tambahnya jengkel.
Saya menatap masam. “Ya mungkin soalnya bentukku mirip kuli panggul batubara Put!” jawab saya tak kalah jengkel. Sungguh perjalanan dua jam di bis menjadi pukulan berat bagi harga diri saya sebagai gadis muda belia.
Banyak orang tahu betapa menawan paras Putri, betapa cemerlang otaknya, betapa manis tutur katanya, betapa populer dirinya.
Banyak orang tidak tahu betapa needy Putri terkadang. Betapa nangisan dia untuk hal-hal absurd semelekete. Betapa sering ia tidak percaya diri dan merasa orang lain lebih segala-galanya dari dirinya.
Yang SAYA tahu, betapa Putri tidak pernah menganggap interaksi apapun sebagai transaksi. Saya bisa memerintahkannya untuk mencarikan dan membelikan cetakan nasi kuning tumpeng di Shopee, karena belanja online bukan hobi saya. Saya tahu Putri tidak akan pernah merasa saya berhutang jasa untuk segala hal kepadanya. Dan saya tahu, kesuksesan sebesar apapun yang saya raih, saya bisa menceritakannya dengan semeriah mungkin, dengan menggebu-gebu kepadanya. Dan ia akan lebih bahagia, akan lebih histeris merayakan kemenangan saya.
Kami memiliki sebuah grup pertemanan yang diisi sekelompok wanita paruh baya dengan kondisi mental dan timbangan badan yang tidak stabil, Gelud Queens. Kalau saya memutuskan untuk menulis satu essay mengenai salah satu dari mereka selain dirinya, Putri tidak akan terpikir untuk merasa iri. Ia hanya akan membaca essay tersebut dan menangis terharu terisak-isak akan tulisan yang diperuntukkan bagi orang lain. Dan akan mencoba memeluk saya. Dan saya akan berkelit menghindar penuh kesebalan.
Hari pertama perkuliahan, semesta membawa saya duduk di sebelah seorang gadis berkemeja rapi dengan rambut panjang yang indah. Saya menoleh ke arahnya. My soul sniffed her soul, and decided, this one, I keep.
And I thank God she is alive.
Happy birthday, Love.

Masih inget aku nanges sampe megap2 di ujung kamar pas denger sobatku yg satu ini kudu pindah ke jakarta krn doi dpt kerjaan disana. I was happy for her, but also extremely sad just thinking that she would be finally far 😫
Kali ini aku nangis lagi nyaris megap2 di dalem mobil di parkiran sekolah anakku 😭😭😭😭 Pokoknya aku lebay, terserahlah mo dibilang apa. Wlpn udh dbaca berkali2, ternyata tetep aja aku rembes cirambay sambil umbelen gara2 nanges. Tp kali ini ku yakin siy nangisku bukan unfaedah.
My soul sniffed yours too, and this one I keep ❤️
Really ??? .. Puuut, U’re our Dian Sastro Uner di tahun 2000. Uaayuu, Pinter, Catetan apik dan rapi siap kita fotokopi ramean dan selalu tuluss ada buat kita semua. Mega menceritakannya dg fresh banget gimana persahabatan yg unik dari karakter yg sangat berbeda, last for many decades … so sweeet. Im proud and happy jadi bagian Gelud Queens … yg artinya..munghin hanya kita yg tauuu…wkwkkw