— E S A I · MEI 2026 —
The Road Not Taken
Tentang burger domba, ibu di kelas parkour, dan pilihan yang tidak kita jalani.

Saya berdiri di depan salah satu institusi kulinari di sebuah kota kecil yang terletak di deretan pegunungan Alpin selatan. One of the most beautiful little towns in the world. Saya berdiri di tengah antrian mengular sebuah kafe bernama Fergburger. Kata Instagram, kafe ini menjual burger paling enak sedunia. What a bold claim. Perlahan melangkah maju, pikiran saya sedikit gelisah. Fokus saya tertuju pada layar handphone, ke menu yang tersedia. Saya tidak bisa memutuskan burger apa yang akan saya beli. Sapi atau domba? The Bullseye, grass fed free roaming prime beef ribeye steak atau Lamby Blue, high country lamb burger. Sungguh puitis bukan, penamaan high country lamb? Serasa menikmati burger terbaik di dunia di tengah hamparan perbukitan high country ala film The Sound of Music. Mungkin sembari ditemani seorang ksatria Highlander dari perbukitan Skotlandia.
Pikiran saya menimbang-nimbang kebaikan dan keunggulan masing-masing spesies pengisi burger. Merangkai pengetahuan yang saya kumpulkan dari Google. Negara ini adalah pengekspor domba terbesar sedunia, jadi kalau kamu berkunjung ke sini dan tidak mencicipi domba mereka? Sungguh terlalu. Tetapi, kenapa menu burger di sini setengahnya diisi sapi? Berarti kan specialty mereka sapi? Bahkan pertimbangan bibit bebet bobot saat memilih pasangan hidup saya saja tidak semendalam kontemplasi yang saya lakukan terhadap sapi versus embek ini. Mungkin karena hanya ada satu pria yang gullible enough untuk melamar saya.
Setengah jam kemudian saya keluar sambil menenteng kantong kertas cokelat. Di dalamnya, terdapat sebongkah burger raksasa dengan sepotong daging sapi di antara tumpukan keju, tomat, bawang dan saus-sausan. Saya menggigit burger di tangan saya, menikmati daging steak super juicy dan merasa menang karena pilihan saya terbukti benar. Saya menikmati pilihan saya. Sambil berjalan kembali ke penginapan, pandangan saya menerawang ke papan nama Fergburger. Dan saya berkata pada diri sendiri. “Someday, I will come back. Akan kucoba lamb burgermu.”
Tetapi bahkan pada saat itu juga, deep down saya menyadari, bahwa kemungkinan untuk kembali ke tempat ini, untuk kemudian pada akhirnya bisa mencoba the highland lamb, sangatlah tipis. Di lubuk hati saya menyadari bahwa dengan memilih burger sapi, akan ada bagian dari hati saya yang menyesali hilangnya kesempatan merasakan si highland lamb di negeri surga domba ini.
Tentu saja penyesalan perkara burger domba ini tidak bersemayam lama di hati saya (walau setelah tiga tahun berlalu, toh saya masih bisa mengingat bagaimana perasaan saya pada saat itu untuk kemudian menuliskannya). Kejadian yang memantik ingatan akan burger domba ini adalah di suatu Senin sore, saat saya menunggui anak saya yang sedang mengikuti kelas parkour. Saya duduk di ruang tunggu yang dipenuhi orang tua lain. Semua orang sibuk menatap layar handphone mereka. Dengan kostum harian kebesaran; kaos oblong, celana kolor dan sepatu keds genjreng, saya membenamkan bokong di sofa yang pegasnya sudah kehilangan elastisitasnya. Pandangan saya terarah pada seorang perempuan lain yang juga sedang menunggui anaknya. Ia memilih duduk di kursi dan sibuk mengetik di laptop yang terletak di meja di depannya. Sejenak ia berhenti mengetik, menelengkan kepalanya dan tangannya tertangkup. Tak pelak sedang berpikir.
Sesuatu pada diri perempuan itu menggugah rasa di dalam diri saya. Mungkin karena ia memakai sepatu oxford hitam? Atau her smart suits yang menarik perhatian saya? Atau rambut bob rapinya? Atau… karena perempuan ini mengingatkan saya akan jalan kehidupan yang saya tinggalkan. Mengingatkan saya akan kehidupan alternatif yang di suatu masa di waktu lampau menjadi satu pilihan. Kehidupan dimana laptop, blazer, smart-looking woman dengan layar laptop, dan plane hopping was life.
Seperti kebanyakan milenial, saya menuangkan kegalauan di insta story. Foto si perempuan dari belakang dengan setelan rapinya mengetik di laptop dan di sudut foto kaki saya dengan sepatu keds dan celana pendek. Saya menulis, there is always regret about the road not taken. Lengkap dengan lagu instrumental melankolis sebagai pengiringnya. Tentu saja karena Google di handphone kita selalu mendengarkan dan mengamati, maka feed saya kemudian menampilkan sebuah puisi gubahan Robert Frost. The Road Not Taken judulnya. Puisi yang sederhana dan simple. Menceritakan sesuatu yang setiap manusia pernah dan akan lagi dan lagi mengalaminya. Saya membaca puisi tersebut dan berpikir sungguh tepat Google kali ini mencuri pandang. Saya terjemahkan puisi tersebut walau tidak ada sejujung kuku keindahan puisi beliau.
TERJEMAHAN
Jalan Yang Tidak Kita Tempuh
— The Road Not Taken, Robert Frost —
Dua jalan bercabang di tengah hutan yang daunnya menguning.
Dan aku menyesali bahwa aku tidak bisa memilih keduanya.
Dengan ragaku yang tunggal, lama aku berdiri di persimpangan jalan itu.
Dan mencoba menatap satu jalan yang terbentang sejauh mata dapat memandang.
Hingga jalan tersebut berkelok dan tertutup semak.
Lalu aku berganti menatap jalan yang satunya, yang tampak sama nyamannya.
Dan mungkin mempunyai peluang lebih besar untuk dipilih.
Karena lebih subur berumput.
Walau saat diperhatikan, jalur setapaknya sama-sama tampak sering dilewati.
Di keheningan pagi kedua jalan terbentang.
Keduanya diselimuti daun-daun berguguran yang belum terusik.
Oh! Aku akan menyimpan jalur yang pertama untuk di lain hari!
Walau di dalam hati aku tahu bagaimana hidup berjalan,
Nyaris mustahil aku akan kembali berada di posisi ini lagi.
Aku akan menceritakan kisah ini dengan helaan nafas.
Suatu saat kelak di masa depan yang jauh.
Dua jalan bercabang muncul di tengah hutan, dan aku..
Aku memilih jalur yang lebih jarang dilalui,
Dan itulah yang membuat perbedaan.
Ha! Penyair sekaliber Robert Frost mempunyai dilema memilih jalan di hutan. Saya mempunyai dilema perkara burger. Saya membaca puisi tersebut lagi dan lagi. Sambil membayangkan berdiri di tengah hutan. Menatap dua jalan bercabang yang tidak bisa saya lihat di mana mereka akan berakhir. Akankah berakhir di puncak bukit yang indah? Akankah jalannya terjal mendaki? Atau landai di antara padang bunga? Saya hanya bisa memicingkan mata untuk melihat 100 meter ke depan. Oh the dilemma…
Lalu suatu saat kelak mungkin saya akan menceritakan hari itu ke cucu saya dengan kalimat “Nenek memilih jalur yang lebih jarang dipilih orang.” Walau kalau dibaca ulang di puisi tersebut, kedua jalan tersebut tampak serupa, sama-sama mempunyai jalur setapak yang sering dilewati. Apakah itu sekedar pembenaran diri kenapa saya memilih jalan yang ini dan bukan yang itu?
Si perempuan bersetelan rapi yang tampak penting dengan laptop di hadapannya, dipenuhi kurva dan chart berwarna-warni sedang menunggu anaknya melocat berjumpalitan di kelas parkour.
Saya dengan baju santai dan sepatu keds, rambut dikonde ala Gajahmada sehabis kembali dari perang Bubat, setelah seharian menghabiskan waktu mendeliki buku resep Xanderskitchen untuk membuat gulai ayam diselingi binge watching serial Bridgerton di Netflix. Juga sedang menunggui anak saya yang sedang berloncat-loncatan bak Spiderman KW super.
Setetes penyesalan akan hilangnya kesempatan menjalani rute yang satunya.
Kepuasan sekaligus kerinduan. Kegembiraan sekaligus kemellowan. Kebanggaan atas burger sapi terbaik yang berhasil saya rasakan, sekaligus hasrat yang masih ada untuk merasakan burger highland lamb.
Suami saya membaca essay ini, menutup laptop dan menghela nafas. “Aku kembali ke masa kita masih pacaran. Dan wondering bagaimana hidup kita bakalan kalau saja aku mengambil jalan bekerja di Bank Indonesia kala itu…”
Kami berdua duduk dalam diam. Di dapur rumah kami yang sejuk, diantara buku- buku PR milik dua bocah yang berserakan. Di atas kompor, sisa gulai ayam sedang dipanaskan. Di suatu siang di bulan Mei.
How about you? Adakah burger di hidupmu?

Meeeeeeeg, apiiiiiik banget
Tak tunggu tulisan lainnya.
Luv youuuuu ❤️
Thank youuuuu Vri
Aku punya penyesalan sampai sekarang cepat- cepat nikah dan punya anak. Bukannya gak bahagia, tapi kayak belum pernah ngerasain sama sekali kehidupan yang lain diluar rumah tangga. Tapi ya siapa tahu apa yang di masa depan.
Jalan bercabang akan selalu ada lagi di depan. Semoga yang berikutnya akan mendekatkan ke impian yang masih dirasakan. But hey, we have a good life to start with.
As usual, reading your writing always makes me contemplate. Gk usah diraguin, i’m your biggest fan since Monday Note. Bisa baca lagi tulisan-tulisanmu itu rasanya nagih. Aku termasuk orang yang kurang bisa menuangkan rasa dan pikiran dalam bentuk tulisan and somehow, tulisanmu membantu menerjemahkan sebagian yang terpendam.
My burger? Too many burger left, maybe. Should have taken this, taken that. Not this, not that. Heart broken, of course. One of them, about studying. The one that leave ache everytime I think about.
Maybe I should choose the road not taken by many women. Maybe I should take that one shot opportunity before 40 while being a mother and wife. But, i chose to give up.
Someday, i will write about this broken heart. To heal myself maybe.. Or at least to embrace my own choice, to make peace with myself…
Thanks meg!
Btw, i marry the person who value and love this poet so much. And he always choose the road not taken.
pernah cukup lama, pakai profil pic foto dg gambar persimpangan jalan, ada arah panah belok atau lurus, merenung jauh mau pilih yang mana? jika sudah pilih, apakah boleh kembali? jika kembali apa lebih baik? tapi ini bukan hanya tentang jalan yg akan dilalui. mungkin maknanya hanya untuk perenungan pribadi.
dan tulisan kakak cece meg meg ini, menggali lebih dalam lagi, hey jalan ini pilihanmu, lanjutkan Nyo, dg sebaik-baiknya sehormat-hormatnya, (ngutip mas pram) ingat hidup hanya sekali, berarti lah, kemudian mati (ngutip kek chairil anwar)
Bahkan pas jalan satunya ditawarkan lagi, yang jare ne pingin tak lakoni, yo tetep gak diambil. Tapi terus kepikiran maneh 😭😭😭. Jenenge menungso
Thats a big burger yg masuk kategori menghantui seumur hidup ya. I dont know what the answer is…. Maybe someday we will find it
meggggg, bagus meg. nunggu part lanjutannya. kadang ngayal kalo isekai kayak komik komik manhwa. bakalan nyoba ambil jalan lain gimana ya….hehehehe
Thank youuuu. I have no idea what is isekai etc 🤔
Saat nulis pake tangan sangat gak bagus (capek banget di mata bacanya) … tapi Pinter nulis… ah sudahlah… yang penting Selamat anda di terlahir dalam keluarga berbakat jadi penulis2 hebat
Ooo tak tabok buntutmu 🐴🐽
Me!
Yg dulu terlalu over confidence dg jalan yg kupilih ternyata kebanting njlungup nyungsep … wkwkw
Tapi jalan itu membawaku ke realita hidup yg memaksaku untuk selalu memilih diantara 2 bahkan banyak pilihan.
Ternyata hidup emang selalu hrs memilih. Sering pilihanku eror … tapi lebih baik memilih trus salah trus belajar daripada diam gak memilih.
PR ku belum bisa murni memilih dengan menyertakan Tuhan karena emosi dan kenekatan dalam diri yg belum tertaklukan
Thank U Tulisan Mega ku tersayang yg selalu deep tapi tetep humor cerdas.
Orang paling edan kalau sudah nyemplung 😆😆😆. Gak kapok sebelum basah kuyup kecemplung2 ya ndah 🤣🤣🤣
Selalu menyenangkan membaca tulisan Mega. Bakat menulisnya sejak jaman mading sekolah tak diragukan. Note ini mungkin salah satu burger yg sekarang coba dinikmati lagi nampaknya. Keren banget…
Aku bahkan gak kepikir, iya ya mungkin lg mencoba menikmati ulang
Amazing meg!!!
sedang mengalami memilih diantara 2 jalan bercabang, jadi semangat menjalani apa yang sudah dipilih, apapun yang akan muncul di perjalanan nanti. dan sangat menenangkan, bahwa merasa “menyesal dan ingi mencoba jalan yg tidak di pilih” ternyata bukan sesuatu yang aneh, bahkan justru itu wajar. terimakasih banyak meg, nunggu tulisan selanjutnya 🫶
Kudoain Rin semua berjalan lancar semua muanya ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
ya ampuunn benar-benar rindu sama tulisan kamuuu.. Dulu aku pembaca setia yg selalu menunggu ‘My Monday Note’ nya Mega.. dan sekarang hadir lagi dengan versi yang lebih dewasa dan dalam.. kereeenn
Di, orang pertama yang muncul di benak pas aku mulai nulis. Need to tell Diara
Ya ampun aku lupa kalo blog itu bisa dikomen. Makane nulis komen di story IG. Gara-gara tulisanmu (yg buagussss pol ini) aku jadi ngelamun eh merenung sampe tuku es kopi, gaya beli butterscotch sea saltnya Fore, pdhl lambung trus protes. Smoga apapun jalan yg kita pilih (pastinya sepaket dgn segala konsekuensi) membawa kita ke tempat lebih baik. Aamiin
I hope both of us find our place, I hope we can be where we suppose to be ❤️