— E S A I · J U N I 2026 —
Satu Sosis Panggang
(Atau Dua)
Tentang teman gym, kebijaksanaan seorang ART,
dan alasan-alasan kecil yang membuat kita terus melangkah.

Nicky, it’s so good to see you!” seru suami saya sambil berjalan cepat menghampiri seorang wanita berambut pendek dengan highlight merah menyala yang baru saja duduk di salah satu alat di gym. Tangan kanan Nicky sedang terulur ke atas berusaha meraih pegangan alat. Mendengar seruan suami saya, Nicky menghentikan upayanya, beringsut turun perlahan dari alat dan mematikan timer di handphonenya.
“Oh oh I’m sorry Nicky, I didn’t mean to disturb your exercise!” kata suami saya terperanjat, merasa sangat bersalah.
“Ya menurut loe,” gerutu saya dalam hati sambil memutar bola mata.
Tetapi Nicky, selalu very very lovely, tersenyum lebar ke arah suami konyol saya dan berseru, “Don’t be ridiculous! You never disturb me!”
Nicky adalah salah satu sahabat suami saya di gym. Sementara saya melangkah cepat di sela-sela alat gym bak ninja, menyelinap dan berdoa agar tidak ada satupun pelatih yang menyapa saya, suara tawa suami saya akan terdengar dari ujung ruangan. Berjalan bersamanya, serasa berjalan bersama seekor anjing yang sibuk berhenti untuk mengendus bokong anjing lainnya. Atau dalam kasus suami saya, menggosip bersama anggota gym lain.
Sudah berminggu-minggu Nicky tidak terlihat. Biasanya, setiap Kamis malam suami saya akan berada di kelas kardio yang sama dengan Nicky. Berdua, mereka akan membuat ruangan kardio berubah menjadi pertunjukan stand-up comedy. Tertawa terbahak-bahak di sela-sela angkat beban dan lompat tali. Dari salah satu pelatih, kami mendengar kabar Nicky harus menjalani operasi di kakinya.
“Aku baru operasi pergelangan kaki kanan,” kata Nicky sambil menghela nafas. “Yah lumayan lah, aku dikit-dikit sudah mulai bisa pake alat gym lagi. Tapi saat aku mencoba kelas kardio, ternyata sakit.”
Nicky menceritakan dengan nada biasa, tetapi rasa frustasi di suaranya tidak bisa sepenuhnya disembunyikan. Rahangnya dikatupkan dan jari-jarinya yang dicat merah meremas handphonenya. Nicky mempunyai target; mendaki Machu Picchu untuk mengisi masa pensiun bahagia sejahtera.
Gym yang saya datangi bukan gym dengan pangsa pasar pemuda. Usia rata-rata anggotanya adalah 60 tahun. Sementara Nicky mempunyai Machu Picchu sebagai goalnya, Ivon, seorang wanita berusia 70 tahun datang ke gym tiga tahun yang lalu karena vonis dokter: osteoporosis berat. Pilihan Ivon hanya dua, terapi suntik atau ia diberi waktu enam bulan oleh dokternya untuk melakukan latihan angkat beban untuk mencoba meningkatkan kepadatan tulangnya.
Enam bulan berlalu, Ivon berhasil menggapai batas kepadatan tulang yang disyaratkan. Hari berganti minggu, bulan berganti tahun, dan di usianya yang ke tujuh puluh ini, Ivon memasuki gym dengan langkah-langkah cepat dan ringan. Setiap dua hari sekali, tubuh langsing Ivon dengan rambut hitam pendeknya akan terlihat melakukan gerakan lompat tali dengan lincah
It amazes me how differently humans find reasons to keep going.
Saya pernah mendengar cerita dari seorang rekan kerja. Ia datang makan siang sambil membawa sebuah kisah tentang seorang pasien yang memiliki penyakit yang terminal, tidak bisa disembuhkan. Teman saya bercerita, pasien ini berkata ia lelah. Ia lelah karena merasa kelelahan setiap hari. Ia lelah merasa hidupnya sudah tidak berarti lagi karena ia hanya selalu keluar masuk rumah sakit. Ia lelah karena belasan tablet dan kapsul yang harus diminumnya. Lalu ia menyeletuk “I just want to die.”
Bulan Januari datang. Layar TV di ruang rumah sakitnya menyiarkan pertandingan tenis Australian Open. Dengan tekun ia mengikuti tayangan setiap pertandingan, dan kemudian membicarakannya dengan para perawat atau siapapun yang bersedia mendengarkan dirinya. Bulan Januari beranjak, dan resolusi hidup pasien ini pun bergeser. “I don’t want to die. I want to live till next January so I can watch the Australian Open again.”
“That’s it? Tennis is the reason to live?” tanya seorang rekan kerja saya yang lain, seorang gadis berusia dua puluh tahunan yang belum perlu merasakan lelahnya hidup. I, on the other hand, quietly understood.
Seperti jutaan generasi milenial lainnya, saya sudah ingin pensiun. Day in day out, it just same shit different day. Setiap jam delapan pagi, saya menyetir ke kantor dengan ditemani alunan lagu-lagu penyemangat hari. Sambil meratapi kenapa suami saya bukan seorang CEO yang menyamar.
Tersebutlah sebuah grup WhatsApp yang diisi teman-teman sekelas SMA saya. Sharing is caring adalah moto utama grup, yang ditunjukkan dengan hujan foto selfie para anggotanya. Diikuti dengan moto kedua; we listen without giving solution. Menjadi berguna bukanlah tujuan pembentukan grup WhatsApp ini.
Tetapi terkadang, sangat-sangat jarang, chat di grup diisi pembahasan yang agak berbobot. Kali ini kami mendiskusikan mengenai pembelian mobil. Ada dua kubu disitu, yang setuju untuk nabung saja dulu baru beli tunai dan kubu satunya yang dicicil saja lah beli mobilnya. Semua punya alasan masing-masing. Keduanya valid. Sampai kemudian seorang teman, Pejantan Tangguh (karena bentuknya yang mirip ayam kampung), memberikan verdict kenapa cicilan adalah jalan ninjanya. “Soalnya, aku tu lebih semangat kerja untuk bayar cicilan Bank, daripada untuk nabung. Nek nabung dulu, pasti onok ae kebutuhannya. Aku nggak takut ngambil duit tabunganku, tapi aku takut mangkir bayar cicilan.”
Dan itulah alasan kenapa saya dan Pejantan Tangguh tetap setia berangkat kerja setiap pagi. Bukan karena (sangat) takut debt collector, tapi karena cicilan itu ada. Ia punya tanggal jatuh tempo. Punya nominal. Punya konsekuensi kalau diabaikan. Nabung untuk sesuatu yang abstrak itu mudah untuk ditunda. Tapi cicilan menunggu di tanggal dua puluh lima, tidak peduli kamu sedang sedih atau malas atau merasa hidupmu tidak berarti.
Ada sesuatu yang menenangkan dari deadline yang tidak bisa dinegosiasi.
Belasan tahun yang lalu di Jakarta, saya mempunyai seorang asisten rumah tangga. Beliau adalah asisten pocokan; datang selama tiga jam saja setiap harinya ke rumah saya lalu pergi ke rumah lain lagi. Suatu kali, saya mendengar dari satpam perumahan bahwa ART saya ini baru saja kehilangan anak sulungnya dalam kecelakaan motor beberapa hari yang lalu. Mendengarnya, bahkan walau saya tidak pernah bertemu anaknya, saya mendadak kelu. Losing a child. Is there anything worse than that?
Saya menyampaikan ucapan berduka cita dan lidah saya kemudian bekerja lebih cepat dari otak saya. “Mbak bisa kerja sekarang? Nggak butuh libur dulu?” Dalam pikiran saya, kalau saya yang mengalami tragedi itu, saya bakal mengurung diri di kamar, menangis tanpa henti dan mungkin berakhir di rumah sakit jiwa.
Without losing a beat, Mbak ART saya menjawab “Susah mbak sedih lama-lama kalau lapar.”
Mbak ART saya tidak sedang mencoba berfilosofi. Kehidupan hanya menghadirkan pilihan untuknya; bergerak atau kelaparan. Dan dalam kepraktisan berpikirnya, ia membuat keputusan untuk mengesampingkan rasa duka yang mampu melumpuhkannya. Ia tidak duduk menunggu hingga waktu melembutkan penderitaannya. Lapar. Anak yang satunya lagi butuh makan.
Lebih dari empat abad lalu, Montaigne pernah menulis tentang seorang pria yang sengaja tetap makan daging asin, agar ketika penyakit gout-nya menyerang, ia punya sesuatu untuk disalahkan. Manusia kadang tidak membutuhkan alasan yang paling benar. Karena alasan yang benar sering kali terlalu abstrak, terlalu tidak adil, atau terlalu “hanya Tuhan yang tahu why.” Terkadang kita membutuhkan alasan yang bisa digenggam.
Pasien dalam cerita teman saya membutuhkan turnamen tenis untuk menggenggam Januari berikutnya. Pejantan tangguh dan saya membutuhkan jatuh tempo cicilan untuk menggenggam satu bulan kerja lagi. Nicky membutuhkan Machu Picchu untuk menggenggam bayangan masa pensiun yang sehat dan bahagia.
Ironisnya, bahkan saat saya sudah tahu bahwa manusia butuh alasan nyata yang bisa digenggam, bukan berarti hal itu ada dalam kontrol saya. Dan suatu hari, tanpa peringatan, ia menghampiri Jason.
Jason, anak laki-laki delapan tahun saya. My blue crayon who draws my sky.
Suatu hari, tahu-tahu sisi kanan kepala Jason pitak. Rambutnya rontok dalam bentuk lingkaran yang cukup besar. Dari seorang anak yang tampan, Jason sekarang menjadi seorang anak yang tampan dengan sasaran panah di samping kepalanya. Semacam Avatar Aang versi agak miring ke kanan. Kami kemudian berkonsultasi ke seorang dermatologis. Jason didiagnosa terkena alopecia, dimana sel imun tubuhnya menyerang folikel rambutnya. Ini adalah penyakit autoimun yang belum jelas penyebabnya.
Jason mendapat puluhan suntikan di kepalanya. Jason menangis, kesakitan dan ketakutan. Beberapa tetes darah terlihat merembes di kulit kepalanya. Malam harinya, di kamarnya, saat berpelukan berdua dengan saya sebelum tidur, Jason berkata bahwa ia tidak mau pergi ke sekolah besok pagi. Jason kesakitan dan ia malu. Malu dan takut akan reaksi teman-temannya. Hati anak delapan tahunnya tidak sanggup membayangkan dunia yang harus dihadapinya dengan rambut yang pitak.
Jason tidak ambil pusing akan the big picture of brightest future, bahwa pergi ke sekolah itu penting bagi masa depannya kelak. Tidak ada gunanya juga membujuk Jason bahwa ia akan kehilangan kesempatan bermain bersama temannya kalau ia membolos. Kesedihan hati Jason karena kulit kepalanya yang berdarah dan memar ditambah rasa malu di hatinya karena rambut pitaknya lebih dominan dari rasa kehilangan kesempatan bermain bola di sekolah.
Hati saya mencelos. Dan saya tidak memiliki kemampuan untuk memaksa Jason pergi ke sekolah.
Jam delapan malam, Jason dengan berhati-hati membaringkan kepalanya yang masih sakit diatas bantal.
“Why it happened to me, Mummy?” tanya Jason. “None of my friends has it.”
Saya membelai bekas suntikannya dengan lembut.
“Mummy doesn’t know why, Jason,” jawab saya. “Maybe we can pray for an answer?”
Diiringi alunan lagu lullaby, mata Jason mulai terpejam.
Tiba-tiba matanya terbuka lebar. Jason terlompat bangun.
“Tomorrow is sausage day! I have to go to school!”
“Can I have two sausages tomorrow, Mum?” tanya Jason
Saya mengangguk. Jason minta sosis dua lusin pun akan saya kabulkan.
Hari Selasa pagi, Jason siap untuk pergi ke sekolah, berbekal duit 7 dolar untuk dua buah sosis. Saya berbisik ke anak perempuan saya untuk melihat-lihat kondisi Jason di jam istirahat. Sepulang sekolah, begitu masuk ke dalam mobil, Jason langsung mengomel dengan murka.
“The sausage day wasn’t today! It is tomorrow! I have been waiting the whole day to get my sausage! And turns out it is tomorrow!!! Oh ya Mum, one kid asked me if I have cancer when he saw my patch. But I am so mad I don’t get the sausage!!!!”
Hari Rabu pagi, Jason kembali bersekolah. Kembali berbekal uang 7 dolar. Saat saya menjemput di sore hari, dalam perjalanan pulang di mobil, tidak ada lagi kemarahan dramatis akibat sosis yang ingkar janji. Tetapi Jason sedang mengalami kemurkaan yang lain. “Today is the worst day!” klaimnya.
“Why? You got your sausage right?” tanya saya.
“Yeah, the sausage was alright, but I have Mandarin class today! I don’t understand why we have to learn Mandarin? We are not Chinese! We don’t live in China!” tegas Jason.
Anak perempuan saya menjawab dengan gusar. “Stop yapping Jason! Just move school if you don’t want to learn Mandarin!”
“But Mum, you know I can’t even speak English that good! I had to go to speech therapy before, remember?” argumen Jason, berusaha mengelakkan tambahan tugas belajar bahasa asing.
“Well, look at you now Jason, speaking English very fluently. Maybe we have to find a Mandarin speech therapy to help you?” tawar saya.
“Noooooo!!!! I’m fine! I’m fine!”
Melihat pantulan sosok Jason dari kaca spion berusaha merebut snack milik kakaknya, mendengarkan celotehannya akan ketidaksukaannya pada kelas Mandarin, saya membisikkan “Thank You Lord” akan sosis yang Ia kirimkan kepada Jason. Walau dengan penundaan pengiriman karena kekacauan kalender kosmik.
“May we find our sausage when we need to keep going.
Or may the universe send one our way.
Atau, dalam kasus Jason, dua sosis. Lucky boy!”

Your story today make me thinking what my sausage is. Or maybe I’m thinking too much I don’t even realize that I keep walking and yapping like Jason did
God speed recovery for you Jason, toi toi toi 👍
yang penting kadang still keep going, asal masih bisa keep going