— E S A I · JUNI 2026 —

Bukan Sekedar Burger, It’s a Feeling

Tentang gerobak burger yang menyimpan jalan pulang,
rumah Bude, Jojo, dan saus oranye.

Saya bukanlah seorang foodie. As much as I want to be one, to enjoy food, makan bagi saya adalah sekedar untuk bertahan hidup. Mungkin karena kelemahan karakter itu, saya sangat menikmati acara Wisata Kuliner yang dulu dibawakan almarhum Bondan Winarno. His love to food was contagious.

Walau dengan keterbatasan kemampuan saya mengapresiasi makanan, ada satu burger yang not just a burger, it became a feeling bagi saya. Burger Bernardi Namanya. Here’s the story.

Kisah ini dimulai pada tahun 90an (theme song Jurassic Park bergema), setiap bulan Juli saya dan adik akan dikargokan berdua ke Surabaya. Dari sebuah kampung di Sleman, Yogyakarta, kami berdua akan dikirim menggunakan mobil travel untuk menghabiskan masa liburan kenaikan kelas selama sebulan di rumah Bude. Perjalanan dimulai dengan mobil travel yang pada zaman itu sudah seperti moda transportasi kereta kuda kencana emas. Di tengah perjalanan, di saat mata masih lengket mengantuk, mobil travel akan berhenti. Setelah tahun demi tahun melakukan perjalanan ini, sepasang mata kecil saya masih selalu terpesona menatap gedung raksasa restoran yang selalu menjadi tempat perhentian perjalanan travel kami.

Di tengah kegelapan malam, restoran ini tampak berdiri perkasa diantara ketiadaan bangunan di sekitarnya. Mama akan bertanya apakah kami ingin makan sesuatu. Saya tidak bisa mengingat detil acara ngeresto dini hari in the middle of nowhere ini, hanya samar-samar mengingat semangkuk soto dan teh hangat di hadapan. Tumpukan kerupuk di dekat kasir dan kepulan asap rokok. Yang teringat di benak saya adalah perasaan uncertain, gamang di tengah dunia yang berbeda. Kota yang asing, restoran yang asing, orang-orang yang asing. Sekaligus gairah di dalam hati karena petualangan baru akan terjadi.

Menjelang dini hari, mobil travel akan bergerak perlahan, menyusuri daerah perumahan, berbelok ke kanan dan ke kiri. Kemudian, tiba-tiba, saya mengenali jalan di hadapan saya. Pos satpam beratap hijau di pojok jalan, jalanan sempit dengan deretan rumah berpagar besi. Dan kemudian, di ujung jalan, tampaklah pagar besi hitam bermotif bulatan-bulatan dengan pohon mengkudu di depannya. Perasaan asing digantikan rasa hangat yang menjalar di hati. Saya menyeringai dan membangunkan adik saya yang tertidur di samping saya.

Selama liburan, saya menghabiskan hari dengan bosan bersama, bermain bersama dan berantem bersama adik dan sepupu-sepupu saya. Liburan kenaikan kelas adalah saat dimana rumah Bude berubah menjadi terminal persinggahan bagi para orang tua yang lelah mengurus anak-anak mereka dan butuh healing.

Bulan Juli di Surabaya adalah perpaduan perayaan ulang tahun saya lengkap dengan kue dan tiup lilinnya. Saya dan adik saya kemudian akan diam-diam memanjat ke atas atap rumah, bertengger disitu sambil menyesap bungkusan plastik berisi es ‘buah’ murahan yang berwarna merah radioaktif. Kami keluyuran keliling kampung seharian, tanpa takut diculik preman ataupun dicari orang tua. Di sore hari, saya akan berjongkok di atas selokan, di balik bak sampah yang dipenuhi pelepah daun bekas Bude berkebun. Paha mulai bergetar menahan tubuh agar tidak terjun bebas ke air yang hitam pekat berlumpur. Semua atas nama kompetisi karena tidak ada ceritanya saya kalah dalam pertandingan petak umpet melawan Hendra yang rumahnya berseberangan dengan rumah Bude.

Di rumah Bude selalu dipenuhi hewan-hewan random berlalu lalang. Pada satu waktu, ada dua ekor kura-kura dan hamster yang bersemayam disitu. Tak lupa seekor iguana yang selalu mengalami pergantian kulit setiap saat. Kami percaya iguana tersebut sebetulnya menderita penyakit kurap. Lalu anjing. Selalu ada lebih dari dua anjing dalam satu waktu di rumah Bude. Kadang anjing bagus, lebih seringnya anjing-anjing yang questionable keningratannya. Asu banget lah bentuk dan perilakunya.


Jojo.

Tersebutlah seekor anjing bernama Jojo. Jojo bisa menjadi playboy di masa mudanya, dengan bulu coklat lembutnya yang mengembang di bagian bokong. Sayangnya Jojo dikebiri. Jadi alih-alih merayu para gadis anjing, perjalanan hidup Jojo dipenuhi kemarahan akan ketidakadilan dunia. Selama belasan tahun hidupnya, Jojo menggigit tangan orang yang memberinya makan, mengejar orang yang mencoba mengelusnya karena mereka dengan naif berpikir Jojo hanya kesepian dan kekurangan kasih sayang. Selama bertahun-tahun, tidak ada setetespun air dan sabun yang menyentuh bulu Jojo. Semua sudah pasrah bahwa Jojo akan menjadi pengharum ruangan beraroma bangkai cicak.

Lalu tibalah saatnya Jojo yang sudah renta mulai menunjukkan tanda-tanda ajalnya sudah mendekat. Setiap hari kami akan menatap gundukan kemarahan di bawah sofa dan berbisik “Belum mati ya?” Akhirnya Bude menegur kami. “Kalian itu, tiap kalian ndoain dia mati, malah makin panjang umur dia!” Omel Bude.
Jojo makin membusuk. Rumah Bude semakin menyerupai aroma tempat pembuangan sampah akhir.

“Bude, itu lalat-lalat mulai terbang memutari Jojo lho! Kayak bangkai tikus. Tapi dia masih hidup!” teriak saya setengah kagum setengah jijik.

“Pasti dia pake susuk,” komentar Om saya.

“Orang jahat itu kan emang panjang umur,” komentar Bude sang filsuf.
“Anjing juga sama.”

Jojo, kami sudah ikhlas kok Jojo meninggal. Jojo bisa pergi dengan tenang,” bujuk Bude lembut. Lalu meninggallah Jojo dengan tenang. Dengan tiga lalat yang masih setia memutari tubuhnya.

Kami menguburkan jasad Jojo di halaman rumah. Mengelilingi kuburan Jojo, Bude mengucap doa. “Jojo sekarang sudah tenang. Terima kasih Jojo sudah setia menjaga rumah kami tetap aman, dengan aromamu. Terima kasih Jojo sudah mewarnai hidup kami dengan kelucuan dan ceriamu.”

Saya bertukar pandang dengan adik dan sepupu saya. Saya membuka mulut siap berkomentar, kemudian menutup mulut lagi tanpa satu katapun terucap.

“Amiiiiin,” seru kami berbarengan.


Bernardi.

Sekali atau dua kali, Bude akan mengajak kami semua pergi ke tempat paling ajaib di masa kecil saya. Berenang di kolam renang super mewah di mall super fancy (it was really not, but hey childhood magic). Kolam renang Margorejo seingat saya namanya. Dua perosotan yang menghiasi kolam renang yang terdiri dari dua atau tiga kolam terpisah. Satu perosotan besar dan pendek yang akan selalu menjadi hal pertama yang saya lakukan. Lalu saat keberanian mulai terkumpul, perosotan yang satunya lagi yang meliuk-liuk panjang dan sempit. Saya dan sepupu serta adik saya akan bersembunyi, berkejaran, menjerit-jerit. After all, apa yang tidak bisa dikhayalkan oleh empat gadis berbaju renang motif pelangi dengan pita di kanan dan kiri bahu?

Tiga atau empat jam kemudian, tergantung level kebosanan Bude, ia akan menggembalakan empat anak kecil bersandal jepit dengan rambut basah menempel di kulit kepala keluar dari kolam renang. Berjalan mendekati kelokan kompleks, hati saya mulai berharap-harap cemas. Apakah dia akan muncul?

Terkadang, alam semesta menunjukkan cinta kasihnya dan planet-planet berjajar sempurna memberikan energi kosmis yang dahsyat. Energi kosmis itu terwujud dalam bentuk gerobak kencana ajaib bermotif garis merah dan putih. Seorang Bapak memegang kendali, mengayuh sepeda yang membawa gerobak tersebut berkeliling kampung. Di sisi gerobak dan kaca nya tercetak tulisan besar berwarna kuning dan hitam: BERNARDI. Dan entah bagaimana, kami akan berakhir merubung gerobak tersebut dengan pupil mata membesar dan air liur menggumpal.

Memandang tanpa berkedip sang Bapak membuka bungkusan roti burger, mengolesi margarin dan memanggangnya. Lalu bulatan daging sapi tipis pinkish diletakkan di sisi panggangan satunya. Dengan super pelan (di mata kami yang tidak sabar) Bapak Bernardi mengoleskan saos merah-oranye di salah satu permukaan burger, kemudian seiris tomat merah tipis, sehelai selada segar dan daging sapi yang sudah kecoklatan. Ia menangkupkan roti burger satunya, membungkusnya dan mengangsurkannya ke tangan-tangan yang terulur menanti.

Duduk berjejer, kami membuka bungkusan burger kami masing-masing. Pada gigitan pertama, roti yang lembut, daging yang gurih, selada yang segar, dan saus oranye yang kecut segar membuat mata kami terbeliak. Senyum yang tersungging berikutnya saat gigitan burger menuruni kerongkongan, saat burger bukan lagi sekedar jajanan lezat. It became a feeling.

Perasaan dicintai, perasaan that I belong. I was loved. I was important for somebody. I am among my tribe. My people

“Kalau Jojo masih hidup, dia bakal minta burger kita,” komentar adik saya.


Tiga puluh lima tahun kemudian, burger Bernardi tampil kembali, tetapi dalam rupa dan tempat yang berbeda. Bahkan benua yang berbeda. Kali ini di sekeliling meja bulat besar dengan lazy Susan di tengah-tengah meja. Sebuah restoran yum cha yang untuk pertama kalinya saya datangi. Dengan pelayan yang meneriakkan bahasa Mandarin yang tidak saya pahami. Troli demi troli didorong mendekati meja kami, berisi wadah-wadah bambu yang saat tutupnya dibuka, mengepulkan asap hangat dari masakan di dalamnya. Pelayan menanyakan sesuatu ke saya, saya membelalakkan mata menoleh panik ke teman saya Jessie yang duduk di sebelah saya.

“Jess, de e takok opo? Gue hanya bisa boso Suroboyo,” bisik saya panik.

Jessie mulai merepet.

“We want this, we want that. Chicken feet anyone? Babat? Udang?”

Ini mulai terasa seperti adegan di rumah jagal pinggir pantai.

Teh chamomile yang mengepul, kaki ayam yang melepuhkan lidah, obrolan hingga lewat jam tutup restoran. Pelayan melemparkan tatapan mengancam. Suatu selasa siang di bulan April. Delapan orang berkumpul untuk merayakan kelahiran seseorang empat puluh dua tahun yang lalu. Meninggalkan cucian di jemuran, suami di rumah, dan Kdrama di Netflix untuk mengobrol hingga sapi pulang ke kandang. Pelayan bersiap melemparkan parang.

Sebaris lirik lagu terngiang di kepala.

Home let me go home.
Home is whenever I’m with you.

Kadang dihiasi saus oranye dan anjing buduk.
Kadang kaki ayam dan babat sapi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 Comments

  1. Tulisan indah yang membuat kita berkelana ke masa kecil yang penuh kebahagiaan (kadang juga berisi omelan emak, pager yang dikunci gara2 kabur waktu disuruh tidur siang, dan suara penjual lontong balap yang lewat depan rumah di hari minggu pagi). What a core memory ❤️
    Sebuah definisi yang tepat saat makanan tak lagi hanya bermakna makanan di lidah tapi juga perasaan hangat di hati ❤️❤️❤️
    Thanks for sharing meg!

  2. Seperti biasanyaaa, BUAGUUUSSSS POOOOLLLL.. 🥹❤️
    Kok isok romantis ngono sih, Meeeg.. penuh cinta dan kehangatan😭 maaf aku nangisaaannnn..