— E S A I · JUNI 2026 —

Let It Be. I Let You Go

Tentang sofa yang harus pergi, jiwa yang memilih melepaskan,
dan kehampaan yang ternyata diperlukan.

Kamu punya sebuah sofa. Sofa kesayangan. Sofa yang sudah mengisi ruang keluarga selama bertahun-tahun. Kamu tidak bisa mengingat bagaimana kehidupan sebelum sofa tersebut hadir. Motif floral di kain pembungkusnya, posisinya di ruang keluarga, bagaimana furniture dan akesesori lainnya diatur mengelilingi sofa tersebut. Kenangan akan semua orang yang pernah duduk di situ, semua obrolan dan senda gurau yang terlontar di ruangan itu.

Lalu suatu hari, kamu menyadari ada bau yang berasal dari sofa tersebut. Bau tersebut samar-samar dan kamu berpikir apakah hidungmu yang bermasalah? Semakin hari, bau tersebut semakin kuat. Kamu melakukan berbagai cara untuk menghilangkan bau tidak sedap itu. Kamu membeli pembersih sofa, kamu taburi baking soda dan memvakum sofa tersebut. Kamu menghabiskan malam demi malam membuka google mencari tips bagaimana mengatasi bau yang menyengat dari sofa kain. Kamu bertanya-tanya apa yang kamu lakukan hingga sofa ini menjadi sumber bau tidak sedap. What did you do wrong?

Nothing works. Cuka dan air berhasil menutupi bau selama beberapa hari, tetapi perlahan bau yang mengganggu itu kembali muncul. Di puncak musim panas, bau tersebut semakin menusuk. Kamu mulai memakai masker saat harus berada di rumah. Kamu mulai membatasi teman dan saudara untuk berkunjung ke rumahmu. Kamu menjadi defensif dalam membela sofa tersebut atau pura-pura mengabaikan komentar orang. Kamu menyalakan lilin aromaterapi dan menyemprot parfum sebelum menerima tamu.

Lalu musim dingin datang, suhu udara turun ke 0 derajat. Udara yang membeku ditambah hidung yang tersumbat, dan bau itu mereda. Kamu mulai meyakinkan diri bahwa bau itu sudah berlalu. Semua akan kembali seperti dahulu kala. Hatimu mulai tenang walau setiap bangun pagi, kamu menarik nafas panjang, setengah ‘berharap’ bau itu akan kembali tercium. Lalu musim dingin mulai berlalu. Musim semi datang dan bak sahabat lama, bau itu kembali mengambang di udara.

Jauh di dalam hati, kamu tahu betapa konyolnya situasi ini, tetapi kamu tidak bisa melepas pengharapan bahwa maybe, pastinya, suatu hari kelak sofa ini tidak akan berbau lagi. Sofa ini akan kembali menjadi sofa yang mewarnai hidupmu dengan keindahan motif dan keempukan bantalannya. Dan kehidupanmu yang dulu, sebelum bau itu muncul, akan bisa kau genggam kembali.

Dan kemudian, beberapa bulan, beberapa tahun atau bahkan beberapa dekade kemudian, di tengah sedang mencuci piring, atau melipat baju, masih dengan masker yang sudah ditetesi minyak kayu putih terpasang menutupi hidung, kamu terdiam. Sesuatu terjadi di otakmu. Sebuah kejelasan. Seperti pandangan mata yang tadinya terhalang kabut, dan tiba-tiba kabutnya terangkat. Menunjukkan sesuatu yang sebetulnya engkau sudah tahu selama bertahun-tahun. Kamu melihat sofa di seberang ruangan dan you feel it in your soul. I am done. Sofa ini harus pergi.

Tidak ada kemarahan membabi buta. Tidak ada teriakan sumpah serapah yang terlontar. Tidak ada tawa lepas yang terdengar. Tidak ada dialog yang dicari. Hanya kepastian dalam keheningan. I am done with you.

Tetapi ini bukan tentang sofa. Ini tentang manusia-manusia yang kita lepaskan. Yang jiwa kita yang letih memutuskan I let you go.


Ini tentang seorang sahabat yang melepaskan ibunya dari hidupnya. Sesudah 44 tahun lamanya hidup dalam keporak-porandaan perasaan. Seorang perempuan dewasa, gemetar setiap hendak pergi berkunjung ke rumah orang tuanya. Tubuhnya mengingat, sel sarafnya menyimpan. Memori saat ia, perempuan dewasa bersuami, dibentak dan dimaki-maki oleh ibunya di depan semua keluarga besar dan anak-anaknya sendiri.

Ini tentang seseorang yang penting di hidup saya yang menelpon: “Aku tadi nyetir mobil pulang dari kantor dan tiba-tiba aku mengangguk dan berkata, this marriage has to end. I don’t know when, I don’t know how, but I let him go.” Tidak ada kepahitan, tidak ada kemarahan. Final flat tone.

Di malam harinya, ia kembali menghubungi saya. “Aku akhirnya bisa mendoakan dengan tulus, semoga ia (sang suami) bisa berhasil dalam hidupnya. Be happy without me.


Kamu memutuskan bahwa sofa itu harus pergi, bahkan sebelum kamu tahu bagaimana bisa menggotong sofa itu keluar rumah, siapa yang akan membantumu, bagaimana agar bangkai sofa itu bisa dibawa ke tempat pembuangan akhir. Kamu tidak punya mekanismenya. Kamu belum punya strategi. Kamu tidak punya penggantinya. Kamu hanya sudah memutuskan bahwa sofa itu harus pergi.

Lalu masalah berikutnya muncul. Sofa ini adalah warisan kakek buyutmu. Tiba-tiba semua orang mendengar kabar ini. Semua orang menghakimimu. Hanya satu sepupumu yang bersimpati. Tetapi iapun menjaga jarak darimu. Acara kumpul keluarga akan menjadi ajang awkward moment of the year. Tiba-tiba semua orang membagikan kisah tentang pengalaman manis mereka bersama sofa itu di rumah kakek dulu. Sofa yang menemani masa kecil mereka.

Kamu berduka. Kamu tidak bahagia. Tetapi keputusan menyingkirkan sofa itu memang bukan keputusan yang logis. Bukan keputusan yang kamu ambil sehabis mengisi kolom pro dan kontra. Keputusan itu diambil karena keeping it will make you lose one thing you can’t afford to lose. Your sanity.


Tibalah hari kamu membuang sofa tersebut. Kamu memperhatikan saat kedua pria yang engkau sewa untuk menggotong sofa itu keluar bersusah payah bermanuver. Sofa itu tidak membuat proses penyingkirannya mudah. Salah seorang pria itu berhenti, memperbaiki masker yang terpasang di hidungnya. “Gila Bu baunya.” Lalu mereka meminta biaya tambahan karena sekarang mereka harus membersihkan truk mereka sehabis mengangkut sofa tersebut. This sofa now costs you more than you expected. But the show must go on.

Di malam hari, sembari menyantap makan malammu di meja dapur, kamu terpekur menatap ruang keluarga yang kini kosong. Tidak ada sofa di sana. Tidak ada kegembiraan di sana. Tidak ada pekik kemenangan. Kekosongan. Dan selintas pikiran, kalau keputusan ini memang benar, kenapa aku tidak merasa bahagia? Kenapa aku tidak merasa menang? Aku merasa lelah. Aku merasa kosong. Aku merasa… kalah.

Waktu berjalan, ruang keluarga itu masih tetap kosong. Kosong dari sofa. Kosong dari suara tawa dan obrolan santai. Setiap melewati ruang keluarga itu, terbesit pertanyaan akankah aku menemukan sofa pengganti? Akankah ruang keluarga ini menjadi hangat kembali dengan canda tawa para sepupu? Apakah aku sudah melakukan kesalahan?

Kamu duduk dalam kesendirian di ruang keluarga yang remang-remang. Scrolling layar hapemu. Kamu menatap grup-grup WhatsApp yang sudah kamu abaikan selama bertahun-tahun. Kamu punya sebuah grup pertemanan yang sebelumnya rutin setiap Sabtu malam bertemu untuk makan malam bersama bergantian di rumah anggotanya. Dua tahun lalu kamu mulai mencari-cari alasan agar acara makan malam itu tidak diselenggarakan di rumahmu. Lalu, rasa bersalah mulai mengganggumu dan kamu perlahan-lahan menolak undangan makan malam di rumah teman-temanmu. Grup WhatsApp itu masih ada, tetapi vakum. Kamu mempunyai dugaan bahwa teman-temanmu membuat grup baru, tanpa mengikutsertakan dirimu.

Seorang tante datang berkunjung. Menatap ruang keluarga, ia berkomentar “Kenapa nggak ditaruh garasi aja sih sofa itu? Jadi kan kamu tidak harus terganggu baunya. Kakek dan keluarga juga jadi nggak terpecah gara-gara sofanya kamu buang.”

Kamu kembali mempertanyakan apakah kamu mengambil keputusan yang benar. Apakah aku terlalu grasa-grusu memutuskan membuang sofa itu? Kelak kamu akan mengingat saran tersebut dan berpikir, “Kalau memang sofa itu penting bagi Tante, kenapa nggak dia aja yang nawarin untuk mengambil alih sofa itu? Kenapa keluarga besar tidak ada yang menawarkan bantuan untuk mencari jasa pembersih sofa profesional dan membantu membiayainya, kalau memang mempertahankan sofa itu penting bagi mereka?”


Lalu kamu berjalan melewati sebuah tikungan di ujung kota, dan hidungmu mencium bau yang sangat familiar. Bau sofa busuk itu. Badanmu menegang. Otakmu membeku. Hati kecilmu menggeliat panik. Tubuhmu yang sudah terbebas dari bau itu, diingatkan akan kenangan tinggal bersama bau itu. Diingatkan akan masker dengan tetesan minyak kayu putih. Diingatkan akan penolakan setiap ada teman yang ingin berkunjung, ketegangan yang kamu rasakan saat mendengar orang mengomentari bau itu, dan malam demi malam membuka Google mencari jawaban what did I do wrong?

Tikungan itu mengingatkanmu akan sofa dalam hidupmu, yang membuatmu terbangun di jam 3 dinihari, dengan dada berat seperti diduduki seekor buaya, nafas memburu bak pelari maraton.

Tikungan itu mengingatkan akan momen saat sekilas melihat sang ibu mengirim video YouTube di grup keluarga, cukup untuk membuatmu menghapus tidak sekadar pesan itu, tetapi bahkan uninstall WhatsApp.


Sehabis melepaskan sofa tersebut, tiba saatnya kamu harus menghadapi konsekuensi keputusanmu itu. Kecaman dan sindiran Tante. Tagihan tambahan dari proses pembuangan sofa tersebut. Mengumpulkan keberanian untuk menghubungi kembali grup temanmu yang sudah menjauhimu. Menerima penolakan atas upayamu itu. Mendengar cerita bahwa ibumu menjelek-jelekkanmu di acara arisan keluarga.

Dan di atas semuanya, rasa lelah dan kalah karena pertarungan selama bertahun-tahun untuk mempertahankan sofa ini, berakhir dengan kekalahan. I cannot keep you in my life. Aku harus kehilangan engkau. Untuk selama-lamanya. Kamu tidak keluar dari pergulatan ini sebagai pemenang. Kamu hanya melakukan apa yang akhirnya otakmu setuju melakukan sesuatu yang badan dan hatimu sudah mengetahuinya sejak lama. Kamu merasa kosong karena walaupun sofa tersebut sungguh bau, ia telah mengisi hidupmu selama bertahun-tahun lamanya. Dan seperti ruang keluarga yang sekarang kosong, hatimu yang ditinggalkan hubungan itu juga menjadi kosong.

Tetapi kekosongan itu diperlukan. Rasa duka itu diperlukan. Rasa kalah itu diperlukan. Kamu tidak akan bisa mengisi hati dan hidupmu dengan orang lain atau pengalaman yang lain, selama sofa bau itu masih bercokol di ruang keluarga.

Tidak perlu buru-buru mencari pengganti sofa. 

Maybe you will find it.
Maybe not. 

Mungkin ruang keluargamu hanya akan diisi tikar yang dingin atau kursi bambu yang keras. Kamu akan duduk dengan bokong yang kebas dan punggung yang sakit. Tetapi kamu akan melakukan semua itu, tanpa masker dengan tetesan minyak kayu putih. No mask required to breathe.


“You will have to weather the aftermath.
But no mask required to breathe.”


Similar Posts

  • The Road Not Taken

    — E S A I · MEI 2026 — The Road Not Taken Tentang burger domba, ibu di kelas parkour, dan pilihan yang tidak kita jalani. Saya berdiri di depan salah satu institusi kulinari di sebuah kota kecil yang terletak di deretan pegunungan Alpin selatan. One of the most beautiful little towns in the world. Saya berdiri…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

6 Comments

  1. Deep banget Meeeeg, Nice!
    Analogi buang sofa X bikin hati kosong ini kereeeen banget sih,
    banyak dari kita yg ngalamin, tapi gak iso well said ngono lho dan tulisanmu ini menggambarkan dengan jelas detail “rasa” nya. Dan aq sukak, sukak banget ama “Mega’s Signature” yg bikin tulisan deep ini tetep unik, peka tapi cerdas … in this part … ‘Ur bokong maybe kebas’… wkwkwkkw

  2. Meeeeeg, aku langsung teringat memory 2006 dan 2009-ku. Saat aku dengan berat hati harus melepaskan 2 orang yang sangat berarti buat aku. Dan yang 2009 jauh lebih berat karena dia yang nemenin aku ngelewatin banyak masa sulit, termasuk saat trauma healing pas kuliah. Kayak separo jiwaku tercabik. Rasa sakit karena kekosongan itu luar biasa nusuk. But somehow setelah beberapa lama, dalam kekosongan itu, aku akhirnya bisa melihat “aku” lebih jelas lagi. Baca tulisanmu ngingetin aku kalo aku bisa ngelewatin itu dan bisa bounce back, dan aku inget bahwa gak perlu takut untuk melepaskan apa yang menyakitiku. Love should not hurt (apalagi hurt that deep).
    Luv you, Meg. Makasih udah ngingetin aku bahwa aku bisa.

  3. Sometimes it took months of sleepless nights to decide. One day you feel you brave enough to make the step, one day you step back for whatever reasons.
    Bahkan di hari kamu memutuskan membuang “sofa” mu, hatimu berat. Dan hari-hari setelahnya masih diisi dengan “I wish.. If only..” walaupun kamu tahu ini keputusan terbaik.
    Damn meg, kok bisa ya kamu gambarkan dengan tepat kehampaan kesunyian kesakitan yg kita hadapi pas kita memutuskan untuk “pergi”. And yet, it’s true… Ternyata qt butuh sakit itu, gapapa kok ngerasa sepi, ngerasa aneh dan kosong setelahnya. Di titik ini, I can say thank you to my old self for being brave to make that hard decision 💝

    1. Aku bahkan belum pernah melepas seseorang yang seberat itu Put. Yg akan bikin my social standing sangat terganggu dengan melepaskannya. Keberanian yang timbul dari kehampaan.